Rock n Roll ep. 2 (Jungkir Balik di Kereta)

Rock n roll episode 2 ini adalah bagian dari kisah-kisah tak senonoh saya selama di ibukota. Di episode satu, saya sudah menceritakan sedikit kisah saya bergumul dengan kejamnya jalanan ibukota, dengan malas dan sedikit sekali detail. Kali ini saya akan menceritakan bagaimana saya membatu dan guling-guling *(baca: rock n roll) <- terjemahan ala dewa dewi nirwana entah di pojokan sebelah mananya* dari Serpong ke UI. Selama tiga hari saya bolak balik Serpong-UI dengan menggunakan komuter yang baru di-upgrade rute pemberhentiannya itu (rutenya aja yg di upgrade, bukan keretanya).

Awalnya saya berangkat pada hari kamis tanggal 6 Juli 2011 setelah shalat subuh untuk survey lokasi. Saat bangun tidur, saya sempat mengalami dilema maha dahsyat. Waktu iu saya hati saya menggalau, haruskah saya mandi sepagi itu? Bisakah saya pergi tanpa harus mandi? Tapi naluri saya berkata, mandi pagi akan membuat saya sadar sepenuhnya, menjauhkan saya dari musibah, dan rayuan pria-pria hidung belang di luar sana. Dari rumah saudara saya di Melati Mas Serpong, saya dianter ke stasiun Rawa Buntu. Dari situ saya naik kereta ekonomi yang harga tiketnya cuma seribu lima ratus (1.500)! Kenapa saya naik kereta ekonomi? Karena kereta itu datang jam 5.15 sementara si krl AC nya baru akan datang jam 5.30. Sebagai gadis yang sangat mengharagai waktu setiap detiknya, saya merasa wajib untuk naik kereta tercepat apapun kelasnya :p.

Kegilaan Jakarta bisa langsung saya rasakan begitu naik kereta ekonomi itu. Suasana di kereta waktu itu sangat gelap (entah kenapa lampunya gak nyala), penuh sesak bahkan untuk gelantungan pun gak bisa, dan memaksa saya untuk berdiri manis gak jauh dari pintu kereta yang gak ditutup entah kenapa. Kereta yang penuh orang itu memaksa saya berdempet-dempet dengan banyak orang lainnya dengan berbagai macam barang bawaan mereka (bahkan saya sempat melihat ada sederet kangkung diletakkan di bagian atas kereta yang sering dipake buat tas).

Salah satu dari penumpang yang beruntung berdekatan dengan saya adalah seorang bapak-bapak tua kurus dan sederhana dengan sekarung barang entah apa yang dipakainya buat duduk di tengah-tengah kereta. Posisi kami saat itu saling membelakangi. Layaknya adegan dalam film eksyen saat dua jagoannya dikepung segerombol mafia bersenjata, kemudian dua jagoan tersebut pasang aksi saling membelakangi supaya bisa membunuh lebih banyak musuh. Seperti itu pula posisi saya dengan sang bapak.

Setelah beberapa kali berhenti di setiap stasiun dan posisi saya makin terdesak dengan makin banyaknya penumpang yang masuk, saya semakin lama makin merapat ke punggung sang bapak yang akhirnya berdiri dari kedudukannya karena makin penuhnya kereta. Gak lama setelah punggung kami sejajar, saya mulai merasakan sesuatu di punggung saya. Sesuatu itu berasal dari belakang pinggang sang bapak. Karena gak bisa balik badan, saya hanya bisa memfantasikan barang apa yang saya rasakan menempel di pinggang sang bapak. Makin lama saya coba lebih menghayati lagi, apakah gerangan si barang yang keras kaku panjang itu. Saat beberapa penumpang mulai berturunan, saya punya kesempatan untuk balik badan dan melihat apakah gerangan yang tersembunyi di balik kaos sang bapak di pinggangnya. Daaaaan dari keremangan kereta waktu itu saya melihat siluet panjang dari balik kaos yang dikenakan sang bapak, barang itu diselipkan di antara ikat pinggangnya dan disembunyikan di balik kaos. Ternyata, barang itu adalah semacam golok yang tertutup rapat menggelendot manja di pinggang sang bapak di belakang badannya.

Sesaat saya sempat terkesima dengan golok yang disembunyikan sang bapak di pinggang belakang badannya. Selanjutnya saya malah melipir mendekati sang bapak bergolok. Entah kenapa setelah saya tau bapak itu bawa golok, saya semacam menemukan rasa aman di tengah ketidak pastian yang menyelimuti saya saat di kereta ekonomi itu. Rasa galau dan resah saya saat menaiki kereta musnah sudah, sejak mengetahui fakta bahwa saya berada di dekat seorang bapak-bapak bergolok ;p.

Rasa aman saya berganti dengan rasa sedih layaknya Juliet yang akan dikawin paksa denga lelaki selain Romeo, saat sang bapak turun lebih dulu di stasiun apa saya lupa. Untungnya stasiun Tanah Abang tempat tujuan saya tidak terlalu jauh dari stasiun tempat sang bapak turun. Jadi kesedihan saya tidak perlu berlarut-larut.

Sampai di stasiun Tanah Abang, saya beli tiket lagi untuk naik komuter ke UI. Kali ini yang pake ac, harganya enam ribu (6.000). kereta yang ini lebih nyaman dari kereta yang pertama saya naiki. Selain pake ac, juga karena waktu itu di kereta pas sepi belum rame orang. saya bisa duduk dengan tenang sampai ketiduran dan kelewatan dari stasiun UI. Untungnya saya sudah sepenuhnya sadar waktu sampai stasiun Pondok Cina dan langsung lompat indah keluar dari kereta. Sampai di UI, saya langsung nongkrong di halte bis Pondok Cina untuk naik bis kuning yang ngambang di sepanjang kampus.

Oh iya, sejak awal tulisan tadi saya belum nulis saya ngapain saya ke UI. Ceritanya, saya ke UI demi ngecengin brondong langsung ke pusat pangkalannya *eh. Sebagai seorang wanita masa kini yang selalu mengikuti perkembangan trend, wajib hukumnya buat saya untuk menggandrungi brondong. Seperti yang dilakukan oleh beberapa wanita-wanita lainnya di berbagai belahan bumi. Untuk mendapatkan brondong tulen yang fresh saya langsung ke kampus tekhnik :D. Siapa tau saya bisa dapetin brondong yang bisa mereparasi, merakit kembali, memprogram ulang, merancang bangun, atau minimal mengetok magic hati saya yang luluh lantak tak karuan. Sayangnya, waktu itu saya sampai terlalu pagi. Cuma ada segelintir brondong, satpam, cleaning service, dan beberapa tukang bangunan yang terlihat beredar di sekitar kampus.

Saya kembali lagi ke kampus teknik UI hari Sabtunya pada jam yang sama, dianter ke stasiun yang sama dan naik kereta ekonomi yang sama. Tadinya saya berniat naik kereta yang pake AC karena kali ini saya tiba di stasiun lebih awal. Sayangnya setelah ngantongin tiket, sebuah suara misterius yang menggema ke seluruh stasiun berkata bahwa kereta AC pada jam itu dibatalkan keberangkatannya dan kereta selanjutnya baru akan berangkat jam 5.30. Pupus sudah harapan saya untuk bisa duduk dan melanjutkan tidur di kereta. Saya terpaksa lagi-lagi naik kereta ekonomi demi mengejar waktu. Saat menunggu sang odong-odong tiba, saya melihat ada ibu-ibu dengan dua orang anak-anaknya yang kia-kira udah SMP. Mungkin hari itu hari pertama anak-anaknya sekolah, atau si ibu itu mau ngajarin anak-anaknya naik kereta. Beda dengan saya yang rela naik odong-odong demi ngejar waktu, si ibu tetap pada pendiriannya untuk nunggu kereta AC. Kata si ibu, dia kasian sama anak-anaknya kalo naik odong-odong soalnya disana terlalu penuh orang dan barang-barang yang tak terduga (si ibu bilang, kadang orang-orang suka bawa kambing nya ikut naik kereta. Wow!)

Kereta ekonomi kali ini yang saya naiki lebih penuh dari kereta sebelumnya. Saat masuk dan bergelantungan di kereta, spontan saya berdoa dalam hati “Ya Allah, saya pergi dari rumah dalam keadaan gadis. Tolong pulangkan saya tetap dalam keadaan gadis pula. Tanpa tersentuh, tersenggol, atau tertusuk benda-benda tumpul maupun tajam apapun itu namanya….” . Keadaan kereta yang penuh sesak saat itu jujur aja bikin saya parno, dan terbayang-bayang kisah-kisah mengharu-biru tentang pelecehan seksual yang sering terjadi dalam keadaan badan terhimpit seperti itu. Singkat cerita ketika saya sampai di tempat tujuan, keadaan lebih parah dari sebelumnya. Kali ini saya tidak melihat secuil brondongpun yang nongkrong.

Saya pulang jam 2.30 siang dan terpaksa naik kereta ke Jakarta kota. Saya sampai sekitar jam 4, sedangkan kereta ke Serpong baru akan berangkat jam 5.30. Jadilah, saya celingak-celinguk ngeliatin orang-orang yang menuh-menuhin stasiun untuk ngabisin waktu. Sekitar jam 5 ketika kereta saya datang, dan saya mulai berbaris rapi di sisi rel untuk bersiap masuk. Tiba-tiba, muncul seorang ibu-ibu disamping saya dengan kantong belanjaan yang buanyak. Daaan ternyata, si ibu di sebelah saya adalah ibu-ibu yang saya temui di stasiun Rawa Buntu pagi tadi. Entah kenapa, saya mulai berfantasi “apakah ini adalah petunjuk, bahwa ibu ini adalah ibu mertua saya di masa depan….” :D

(tulisan ini masih bersambung dan lagi-lagi saya gak tau kapan bisa mem-posting lanjutannya :p)

1 Komentar (+add yours?)

  1. mbak aris
    Agu 01, 2011 @ 04:18:55

    Hai Ra, mengharukan membaca perjuanganmu di Jakarta… semoga keinginanmu untuk mendapatkan suami yang triliuner cepat terlaksana… biar dirimu bisa duduk manis dan biar orang lain saja yang mengalaminya….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 589 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: