I’m Just Too Shallow To Believe In Existence Of Inner Beauty

Cantik itu apa seh? Haruskah seorang perempuan itu berkulit putih, berambut panjang, lurus, dan halus, terus bertubuh kurus ceking tinggi menjulang seperti bambu runcing yang dulu dipake para pejuang untuk ngelawan penjajah Belanda? Kalo bener kaya gitu, trus gimana dengan perempuan yang gendut, pendek, rambutnya kriting dan gak panjang, kulitnya item (ato coklatlah)…? Apa iya perempuan seperti itu lantas langsung mendapat predikat sebagai perempuan-perempuan yang ada di luar kategori cantik? Haha, yang bener aja!!! Buatku, gak penting apakah seseorang itu putih ato item ato apalah, rambutnya kaya gimana, tinggi seberapa, berat badannya juga seberat apa. Mereka semua cantik.

Dulu aku sempat terperangkap dalam stereotipe semacam itu. Menilai perempuan cantik adalah perempuan dengan kriteria yang sudah aku sebutin sebelumnya diatas (aku males nulisin lagi, hehe). Untunglah, Tuhan menunjukkan betapa bervariasinya kecantikan yang telah Dia ciptakan. Dari situ, aku mulai bisa sediki-sedikit melihat kecantikan dari segi yang berbeda. Buatku, semua perempuan dilahirkan cantik. Tentunya, setiap orang menilai cantik itu beda-beda. Dan karena aku menganggap bahwa kecantikan itu adalah takdir, maka buatku cantik itu bukan lagi sesuatu yang perlu dikejar atau diperjuangkan.

Seperti perkataan yang aku kutip dari film My Name is Khan bahwa produk-produk kecantikan itu gak bikin wajahmu kelihatan lebih cantik. Tapi akan membuat wajahmu jadi lebih bersinar, seperti pengantin baru (haha haha haha). Makanya, jangan harap jadi lebih cantik setelah pake produk perawatan apapun (karena tujuan produk-produk itu adalah pengelupasan kulit mati dan pengencangan-bukan merubah struktur wajah). Karena ya itu, cantik itu adalah takdirmu wahai teman-temanku sesama kaum perempuan. Semua perempuan itu sudah cantik dari lahir.

Kebetulan, belakangan ini aku lagi ngefans berat sama yang namanya Beyonce, Anggun, dan Penelope Cruz. Makanya, pengertian cantik buatku mulai ngikutin perempuan-perempuan itu. Aku sendiri, menilai cantik itu berarti seksi, dan awet muda (kalo ada yang gak setuju diem aja, hohoho). Cantik luar dalam berarti perempuan itu berani mencoba sesuatu, punya pendirian dan keukeuh, tangguh, dan…. terkenal (hehehe, ini asal tulis). Ditambah lagi, down to earth, dan professional di tempat kerjanya. Kalo memenuhi semua itu, menurutku itulah perempuan yang cuantik mempesona luar dalam.

Btw, ngomongin kecantikan dari dalam. Aku gak pernah percaya sama omongan sampah itu. Kalo bener, kecantikan itu lahir dari dalem, trus kenapa produk-produk pemutih bisa begitu digilai oleh banyak perempuan? Kenapa, klinik-klinik perawatan tubuh dan wajah gak pernah sepi dikunjungi pelanggan? Dan kenapa bedah plastik menjadi begitu populer di kalangan-kalangan tertentu? Terakhir, kalo bener-bener inner beauty itu eksis, kenapa di beberapa perusahaan, perempuan sampe diwajibkan pake rok mini dan ber-full make-up?

Aku sendiri gak keberatan untuk pake make-up tebal, tapi harus ada tujuan tertentu. Aku gak masalah dandan untuk memberikan kesan pertama yang baik. Karena buatku, kesan pertama yang didapat seseorang akan mempengaruhi hubungan jangka panjang ku dengan orang tertentu, apapun bentuk hubungannya. Karenanya, kadang-kadang aku rela dandan total ketika pergi ke suatu tempat atau menemui orang yang aku anggap penting dan bahkan pernah pula gembel leccek ketika pergi ke tempat atau nemuin orang yang aku anggep gak penting dan gak akan mempengaruhi hidupku. Ya, aku dandan untuk “sesuatu”. Dan sesuatu itu bisa berupa apapun, entah itu pencitraan diri, uang, bahkan untuk menarik lawan jenis.

Terlalu muluk untuk menilai seseorang hanya dari inner beauty-nya. Bahkan ketika aku pertama kali melihat orang, yang aku lihat adalah… isi dompetnya! ->loh, berarti…. Wallet beauty???<-

Gak usah gengsi mengakui kalo beberapa orang masih terlalu dangkal untuk bisa mencintai kecantikan seseorang dari dalam (aku gak gengsi untuk ngaku, kalo aku memang too shallow to believe in existence of inner beauty). Karena, memang manusia itu diberi keterbatasan dalam menilai dan melihat seseorang, dan memang manusia memiliki intuisi untuk tertarik pada sesuatu yang secara fisik terlihat cantik, seksi, ataupun menarik di matanya. Bersyukurlah, bagi para cenayang yang punya intuisi kuat dalam menilai kecantikan seseorang dari dalam.

Aku sendiri baru bisa benar-benar mengagumi inner beauty seseorang ketika aku sudah mengenal dia lebih jauh dan mulai mengerti pemikirannya, dan pandangan hidupnya.

Iklan

Paman Gober dan Aku (Kenapa bisa dihubungkan???)

Nama: Scrooge McDuck

Paman Gober adalah nama pengusaha pertama yang aku kenal. Karakternya yang pantang menyerah, pelit, tekun, dan selalu waspada adalah yang bikin dia keliatan paling keren diantara pengusaha manapun di jagad raya ini (meskipun Paman Gober ini fiktif, aku tetap cinta mati sama dia).

Paman Gober atau nama aslinya Scrooge McDuck ini adalah salah satu tokoh kartun favoritku. Pertama kali aku kenalan sama si Paman Gober ini dulu, pas aku masih kecil banget (pastinya lupa, kaya’nya aku udah TK deh waktu itu. Apa belum ya…???). Waktu itu, aku baru bisa baca dan dibelikan album donal bebek untuk yang pertama kalinya (aku juga lupa yang beliin siapa, hehe). Paman Gober berhasil mencuri perhatianku lewat kisah permusuhannya dengan Gerombolan Siberat (Beagle Boys) waktu itu.

Selain Gerombolan Siberat, Paman Gober juga punya musuh besar lainnya yaitu Mimi Hitam (Magica de Spell) si penyihir yang gak pernah capek u/ nyuri keping keberuntungan si Paman, dan si Gover Bebek sesama pengusaha yang merupakan saingan berat si Paman yang sama liciknya dengan dia.

Aku gak ngerti kenapa dulu, aku yang masih bocah bisa tergila-gila sama karakter Paman Gober yang pelit, licik, dan suka sekali berpetualang mencari lahan minyak. Mungkin aja sejak kecilpun bakat matre ku udah mulai terasah, jadi pas ngeliat Paman Gober yang punya uang segudang itu aku langsung ngefans berat sama dia (hoho).

Paman Gober ini paling deket sama Donal bebek dan tiga ponakannya. Secara, setiap kali pergi berpetualang pasti mereka ini yang bakal menemani sang Paman. Dia ini suka banget maen ke rumah si Donal, entah untuk nagih utang, numpang makan siang, ato ngajakin Donal sekeluarga berpetualang ke antah berantah sebelah mana…

Selain Donal, tempat yang paling sering dikunjunginya adalah peternakan si Nenek Bebek. Kerjaannya ya sama aja, numpang makan. Apalagi, si Nenek Bebek ini hobi sekali masak dan masakannya enak. Mungkin juga karena seumuran dengan si Paman, makanya dia betah nongkrong di tempatnya Nenek Bebek.

Lang ling lung si ilmuwan miskin yang rajin bikin penemuan juga sering jadi andalannya setiap kali dia ada masalah dengan gudang uangnya. Selain karena dia pintar, Lang ling lung ini gampang dikibulin si Paman. Jadi, Paman Gober sering banget minta dibikinin penemuan dengan harga semiring-miringnya.

Meskipun seringkali digambarkan dia ini galak, pemarah, dan kejam. Paman Gober tetap masih mau ngasih pinjeman duit buat Donal Bebek, ponakannya. Atau itu karena dia licik juga ya…. Soalnya, kalo bukan u/ nagih utang ke Donal, dia harus pake alasan apalagi kalo mo maen dan numpang makan di rumah ponakannya itu…?

Selain digambarkan cukup dekat dengan anggota keluarganya, salah satu ciri khas Paman Gober dalam kisahnya adalah, dia ini gak percaya sama Bank. Makanya dia bikin gudang uang buat nampung semua keuntungan perusahaannya. Gudang uang ini, dia bikin sekokoh-kokohnya dengan penjagaan seketat-ketatnya. Gak cuman buat mengamankan uangnya aja, tapi di gudang uang ini juga ada keping keberuntungannya. Keping keberuntungan ini adalah koin pertama hasil kerjanya menggosok sepatu ketika dia kecil dulu. Dari koin pertamanya itulah, dia kemudian jatuh cinta dengan uang dan berambisi jadi orang kaya. Koin ini dijadikannya sebagai pemicu semangat u/ terus mengumpulkan koin-koin emas. Oleh karena itulah, koin ini sangat dijaga ketat supaya gak jatuh ke tangan si penyihir jahat Mimi Hitam. Di gudang uang ini jugalah dia bekerja mengawasi naik-turunnya keuntungan dari setiap peruasahaan yang dimilikinya. Di gudang uang ini, selain dengan karyawan-karyawannya, dia dibantu oleh sekretarisnya yang namanya Nona Ketik (Miss Quackfaster) dan James, pelayan yang setia mendampinginya meskipun digaji sangat murah, pembayarannya sering telat, bahkan jarang mendapatkan ijin libur (haha, betul-betul pelit).

Entah dulu aku suka dia gara-gara dia punya gudang uang yang menampung uang recehnya yang jumlahnya gak keitung, atau karena dia adalah sosok kakek-kakek lincah yang gesit, atau karena dia itu sosok pengusaha yang buatku komplit banget (meskipun dia licik, tapi dia selalu pake cara yang terhitung jujur dan bersih). Aku juga gak ngerti kenapa bisa sangat tergila-gila sama tokoh kartun ini.

Yang jelas, dari dulu sampai sekarang kecintaanku buat si Paman yang satu ini gak pernah luntur ataupun berkurang. Meskipun kadang-kadang dia agak terlupakan sebentar atau tergantikan dengan tokoh-tokoh lain.

Gosip, Sinetron, dan Rating

Tulisan kali ini hubungannya deket banget dengan hidup aku. Secara, tiap kali pulang ke rumah aku selalu dan selalu melihat mamaku nongkrong di depan TV u/ nonton sinetron kesayangannya. Karena aku bukan pecinta sinetron. Biasanya, aku dan adek-adekku memilih u/ sewa film dan terpaksa nonton di komputer. Secara, TV di rumah sudah dikuasai mamaku.

Selain tayangan sinetron, program (katanya) unggulan lainnya adalah acara-acara gosip. Salah satu pecinta berat tayangan gosip ini adalah aku sendiri. Haha…

Aku gak mau mengulas tentang isi dari program-program yang dikatakan unggulan seperti yang sudah aku sebut diatas. Aku cuman heran aja, kok bisa seh secara serentak, pada jam yang bersamaan ada lebih dari satu stasiun TV yang menayangkan sinetron. Katanya seh, mereka bikin sinetron karena permintaan pemirsa atau yang lebih sering dijadikan kambing hitam adalah rating yang tinggi dari tayangan-tayangan itu sendiri.

Haha haha haha….. alasan yang sungguh memilukan. Aku bayanginnya, alasan itu sama dengan gini; ketika ada anak kecil (anggaplah umurnya 3 tahun) yang sukaaaaaa banget makan krupuk dan minum soft drink. Dan dia gak mau makan yang lainnya kecuali makanan dan minuman itu. Padahal, anak umur 3 tahun itu sedang butuh sekali nutrisi lengkap untuk membantu pertumbuhannya. Masa’ iya, sebagai orang tuanya (siapapun itu) akan terus memenuhi semua permintaannya dan gak maksa anak itu u/ makan dan minum yang lainnya…??? Hanya karena alasan, si anak suka krupuk dan soft drink makanya orang tuanya hanya memberikan itu ke anaknya tanpa mencoba alternatif makanan lain yang lebih bernutrisi buat anaknya. Ohmaigod…

Kalo aku sendiri ditanya, kenapa bisa suka acara gosip. Sebenernya suka banget juga enggak, aku cuman menikmati apa yang disuguhkan oleh stasiun-stasiun TV swasta itu (hehe, alasan…). Jujur aja, kalopun aku nonton sinetron ato acara gosip, tujuannya cuman u/ mencari objek u/ ditertawakan. Tapi, buat stasiun TV itu kan apapun tujuanku nonton program-program itu gak akan berdampak apapun bagi mereka. Karena yang penting buat mereka adalah, aku nonton acaranya dan rating merekapun naik.

Terakhir, aku cuman mo nulis kalo di tulisanku kali ini gak aku kasih gambar apapun karena aku gak mau kena tuduhan menyudutkan nama acara-acara tertentu secara spesifik.

Desperate Housewives

Judul : Desperate Housewives (all seasons)

Cast    : Teri Hatcher, Felicity Huffman, Marcia Cross, Eva Longoria Parker, Brenda Strong, Dana Delany

film selanjutnya yang akan aku bahas adalah Desperate Housewives. aku ngefans, bangettt sama serial ini. ibu-ibu di film ini keren banget. pertama kali aku tau tentang serial ini adalah ketika aku sering nongkrong di American Corner di kampusku jaman S1 dulu. jadi di AmeC itu, aku lebih sering baca majalah People daripada baca buku-buku yang bayak disediakan disana. pas lagi baca majalah itu ada ulasan tentang film serial terbaru waktu itu (sekitar tahun 2005), yang judulnya Desperate Housewives. dari foto-foto dan pemainnya, aku sudah mulai penasaran sama filmnya bakal kaya’ apa. waktu itu aku cuman berharap semoga, serial ini tayang di stasiun tv dia indonesia. dan…. harapanku jadi kenyataan!!!

waktu itu indosiar berbaik hati menayangkan serial ini sampai seasons ke-2. waktu itu aku inget banget, acara nonton bareng DH ini disahului dengan nonton The Apprentice-nya Donald Trump trus setelah DH selesai, lanjut nonton CSI. aku nonton di kosan bersama mbak Arie dan mbak Bule’ jaman itu.

DH ini secara umum seh menceritakan tentang permasalahan ibu-ibu rumah tangga yang saling berteman tapi punya masalah yang beda-beda, tentu saja dengan bumbu-bumbu seperti misteri pembunuhan biar lebih seru dan gak jatuh jadi drama banget.

jadi ibu rumah tangga gak sebahagia bayanganku. apalagi waktu ngeliat kehebohan Lynette Scavo (Felicity HUffman), ibu rumah tangga sejati dengan 4 anak, suami yang sibuk kerja bahkan sering ke luar kota, dan tanpa pembantu (di Amerika sana kan mahal bayar pembantu). semua keribetannya bikin aku tersadar dari mimpi (huahahaha!!!!). belum lagi ibu rumah tangga lainnya yang namanya Bree Van de Kamp (Marcia Cross), anak-anaknya bandel, suaminya selingkuh. trus juga si Gabrielle Solis (Eva Longoria Parker) yang terpaksa harus mencari perhatian dari laki-laki lain yang notabene adalah tukang kebunnnya sendiri yang masih SMA gara2 suaminya yang terlalu sibuk kerja.

ada satu kesamaan dalam serial ini dengan kehidupan nyata yang aku liat, meskipun serial ini berasal dari amerika dan aku di Indonesia. kesamaan tersebut adalah, peran perempuan sebagai penanggung jawab dan pelaksana semua urusan rumah tangga. laki-laki di film ini digambarkan sebagai pencari nafkah, teman curhat istri, pendukung segala keputusan istri, dan kadang-kadang jadi biang kerok dari semua permasalahan.

Previous Older Entries