My Cooking Experience

Sebenernya, ngomongin pengalaman masak memasak ini sangat riskan dan berpotensi membuka aib terbesar dalam hidupku. Semua orang di rumahku pasti sangat setuju kalo aku gak punya sense of cooking yang berarti, apapun yang aku campur kan untuk dimasak, pasti hasilnya gak akan enak.

Hasil dari percobaan pertamaku dengan masak memasak adalah Nasi Goreng dengan mengandalkan bumbu siap saji (lupa merknya apa). Rasanya? Hmm, jangan ditanya. Gak enak!!! Padahal udah pake bumbu instan, tapi tetep aja rasanya aneh. Meskipun rasanya gak bisa diandalkan, sampai sekarang aku tetep nekat bikin nasi goreng ala kadarnya kalo di rumah lagi kelaparan dan waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam (kalo dikonsumsi sendiri kan gak akan mengancam nyawa siapapun). Biasanya aku bikin nasi goreng dengan bumbu-bumbu seadanya di dapur (bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah, merica, garam, terasi, dan kecap).

Setelah nasi goreng, aku sempat penasaran banget bikin spaghetti. Pengalamanku dengan spaghetti lebih menyenangkan daripada dengan nasi goreng. Paling enggak, adek-adekku masih mau melirik dan makan spaghetti bikinanku. Saus spaghetti ku agak beda dengan saus yang lainnya. Aku tergila-gila dengan tumisan, makanya pas bikin saus spaghetti aku selalu menumis sausnya yang dicampur dengan bawang putih, bawang merah, garam, dan merica. Gak peduli apakah itu saus tomat (sambal) ataupun saus instan bolognaise, aku pasti menumis saus-saus itu. Aku paling suka bau tumisan yang sudah bercampur bawang putih.

Aku juga pernah masak sop sayur. Tapi, biasanya bareng sama adekku. Dan biasanya aku cuma motong-motongin sayurannya aja. Trus, kapan hari pas aku di rumah, aku sempat bikin macaroni and cheese yang resepnya aku contek dari majalah. Hasilnya, GAGAL TOTAL!!! Penampakannya sangat jauh berbeda dengan foto yang ada di majalah itu (hmm, bisa gak aku nuntut majalah itu???). Sang macaroni gak dilirik sama sekali sama adek-adekku yang tak punya cita rasa itu (haha, memang enak nyalah2in orang).

Meskipun pengalamanku di dapur seringkali berujung pada bencana (kebanyakan hasil masakanku gak dilirik sama sekali oleh orang rumah, huh!!!), aku tetap pengen bisa masak. Semuanya, gara-gara aku sering nonton programnya chef Bara di Trans tv, trus juga si Rachael Ray di Metro tv. Dua orang ini punya kesamaan dalam memasak yang bikin aku termotivasi untuk bisa menaklukkan dapur. Kesamaan keduanya adalah, mereka ini simpel dan memasaknya pun cepat. Seringkali dengan entengnya di setiap show-nya, mereka bilang bahwa kita bisa menggantikan bahan yang mereka pakai dengan bahan pengganti lainnya yang kita lebih suka dan juga mudah didapatkan (simpel dan dinamis, meskipun kadang bahan masakannya banyak).

Aku gak berharap untuk menyaingi atau menyamai keahlian masak-memasak dari kedua orang itu. Butuh seratus tahun lagi buatku bisa nyamain mereka (hehe). Bisa bikin makanan enak yang aman dikonsumsi oleh segala usia dan digemari orang aja, aku udah seneng banget.

Buat yang mau berbagi resep masakan yang sederhana, ayo-ayo aku akan terima dengan senaaaaang hati (memohon).

Iklan

Musik Dangdut, Kamu Mau Dijual Ke Siapa…?

Kali ini aku pengen nulis tentang industri musik dangdut. Mungkin bisa dibilang, musik ini sedang terpuruk. Aku gak bilang terpuruk dari segi penampilan live di TV ataupun dari sepinya job para artisnya. Aku melihat keterpurukan dangdut ini dari segi inisisatif para penggemar musik dangdut untuk tergerak membeli lagu-lagunya secara legal (bukan dari VCD karaoke bajakan dan donlot dari internet).

Kenapa aku tertarik menulis tentang keterpurukan genre musik yang pernah dibilang Project Pop sebagai music of my country ini? Satu-satunya alasan adalah, karena aku dibesarkan dalam keluarga pecinta berat (kalo gak mau dibilang penggila, sorry ma, pa…) dangdut. Sejak kecil aku sudah dicabuli musik dangdut ini secara langsung atas bantuan kedua orang tuaku (oke, ini termasuk kekerasan non-fisik dalam rumah tangga yang dilakukan orang tua pada anak di bawah umur gak…?). Waktu itu, favorit mama papaku adalah Bang Haji (yang terhormat raja dangdut, Rhoma Irama), Elvi Sukaesih, Evi Tamala, Rita Sugiarto, Meggy Z, A. Rafiq, dll (gak sanggup mengingat lebih banyak lagi, mulai kena serangan migrain neh…).

Pada jaman itu (akhir tahun 80-an) dangdut mungkin bisa dibilang sedang berada di puncak kejayaannya. Musik-musiknya terdengar di seluruh penjuru kota, setiap artis dangdut bahkan punya judul film yang bisa dibilang selalu box office. Selain itu, rasanya jaman aku kecil dulu belum ada yang bergoyang seheboh Inul dkk dan gak ada tuh ceritanya konser penyanyi dangdut yang dicekal. Yang ada malah, penyanyi dangdut ini selalu disambut dan dielu-elukan di setiap kota tempat dia akan tampil.

Kalau mau melihat regenerasinya, sebenernya bagus ya. Banyak penyanyi dangdut baru bermunculan. Sayangnya, penyanyi dangdut baru ini muncul tanpa punya album rekaman dan mereka kemudian terpaksa dengan senang hati menyanyikan lagu-lagu lama atau lagu baru yang sedang populer. Menurut aku, sedikitnya lagu dangdut baru ini karena pencipta lagunya sendiri sudah tidak percaya akan daya beli para konsumen musik dangdut itu sendiri. Padahal, banyak sekali musisi dangdut yang seringkali berkoar-koar kalo musik mereka ini sudah naik kelas dan sudah pindah tempat. Yang pada awalnya hanya didengarkan oleh kalangan masyarakat dari kelas bawah, kemudian mulai dinikmati juga oleh masyarakat dari kalangan atas. Dan tempatnya kini berpindah dari panggung daerah ke hotel bintang lima bahkan pertunjukan konser maha dahsyat.

Masalahnya adalah, bukannya memang dari dulu musik dangdut sudah dinikmati oleh berbagai kalangan dan diselenggarakan di berbagai tempat…? Mungkin maksud sang musisi dengan pindah tempat dan naik kelas adalah, tentang dirinya sendiri yang awalnya hanya nyanyi di lapangan-lapangan tengah kota di daerah terpencil ke hotel bintang lima dan tempat spektakuler lainnya (jadi… sang musisi cerita tentang kesuksesannya sendiri?).

Musik dangdut memang masih tetap eksis di acara TV dan pementasan di berbagai tempat. Tapi, coba lihat dari segi penjualan album rekamannya dan siklus lagu baru yang keluar. Sekarang sedikit sekali lagu dangdut baru dan pencipta lagu dangdut yang masih mau bikin lagu. Kecuali lagu Cinta Satu Malam yang bisa tergolong baru. Btw, ngomongin lagu Cinta Satu Malam, aku kaget pas pertama kali denger lagu berirama house music (ada juga temenku yang bilang, disco pantura) ini. Aku gak tau, ini lagu genre nya apa. Termasuk ke dalam genre musik dangdut, atau lagu disco, atau apa. Yang jelas, kalau lagu ini termasuk ke dalam genre dangdut, sudah jelaslah seperti apa target yang dibidik oleh lagu ini. Pertanyaan yang muncul di pikiranku waktu denger lagu ini, siapa yang bakal beli…?

Ya, kita taulah kalangan pecinta musik dangdut itu keadaannya bagaimana. Apalagi, sekarang seniman musik dangdut cuma bisa jualan lewat RBT (Ring Back Tone) yang kebanyakan didominasi oleh musik pop dan sebagainya kecuali dangdut. Mereka dipaksa bersaing di RBT dengan banyaknya pendatang baru, jenis musik beragam, dan juga dipaksa mengikuti selera konsumen (pasar). Memang pembajakan jadi salah satu musuh besar musisi dangdut. Sehingga membatasi lahan pemasukan musisi. Mereka hanya bisa melihat laris enggaknya sebuah lagu dari tingkat permintaan RBT-nya. Tapi, musisi dari genre musik yang lain gak berhenti bikin lagu baru, meskipun setiap lagu baru yang dikeluarkan pasti akan langsung dibajak.

Sebenarnya, musik dangdut ini punya penggemar yang setia. Sayangnya kantong mereka gak bisa diandalkan. Jadi, penggemar setia ini hanya bisa menikmati musiknya dari layar kaca televisi atau pertunjukan live yang digelar secara gratisan. Harusnya musisi dangdut berpikir keras untuk meningkatkan musiknya supaya tidak hanya laku dijual pertunjukannya, tapi juga album rekamannya. Gak perlu meninggalkan pendengar setianya yang berasal dari kalangan bawah, mereka hanya perlu memperluas segmentasinya aja. Jadi, bisa mengeruk keuntungan juga dari penjualan album rekaman.

Diproteksi: Nulis Lagi

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Lagi Pengen Nulis

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Previous Older Entries