Devdas -> Kisah Cinta Tragis ala Bollywood

Devdas, film India yang lagi pengen aku tulis kali ini. Film ini udah lama banget keluarnya, tepatnya tahun 2002. Sebenarnya, film ini adalah film remake dari versi aslinya yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1955 (wow!!!!! bahkan papaku waktu itu masih balita). Film ini disutradarai oleh Sanjay Leela Bhansali dan dibintangi artis-artis kelas A Bollywood, tiga diantaranya adalah Shahrukh Khan (Devdas), Aishwarya Ray (Paro),dan Madhuri Dixit (Chandramukhi). Selain itu ada Kiron Kher (Sumitra) yang berperan sebagai ibunya Paro dan Jackie Shroff (Chunnilal) sebagai teman baiknya Devdas yang pemabuk berat.

Film ini mengangkat tema mengenai cinta dan konflik keluarga. Berawal dari kisah cinta Devdas dan Paro yang sebelum pacaran, mereka ini sudah sering main bareng waktu kecil. Ketika remaja, Devdas meninggalkan India untuk kuliah ke… (Inggris apa Amerika ya??? Aku lupa). Sejak saat itu, Paro terus menunggu Devdas dan menyalakan lilin sebagai simbol dari harapan dan cintanya buat Devdas yang gak akan pernah mati.

Setelah bertahun-tahun menunggu, Paro mendengar bahwa Devdas telah kembali ke India. Paro adalah perempuan yang paling bersuka-cita dengan kabar ini (dibuktikan dengan adegan menyanyi dan menari saat dia denger Devdas mo pulang). Devdas sendiri juga sangat tergila-gila oleh Paro, terbukti dengan keputusan Devdas untuk mengunjungi rumah Paro terlebih dulu sebelum dia sampai ke rumahnya sendiri (gara-gara ini, ibunya sempat marah besar karena Devdas lebih memilih menginjakkan kaki pertama kali ke rumah Paro daripada pulang ke rumahnya sendiri).

Masalah mulai muncul ketika Sumitra (ibunya Paro), berkunjung ke rumah keluarga Devdas untuk melamar Devdas. Keramahan Sumitra ini dibalas dengan caci maki dan penolakan dari ibunya Devdas. Keluarga Paro dianggap gak sekelas dengan keluarga mereka (keluarga Devdas kaya banget, keluarga Paro biasa aja). Mendengar ini, Sumitra marah dan mengadukannya ke Paro. Meskipun marah, ketika dia melihat Paro yang sedih karena lamarannya ditolak, tetap saja Sumitra sebagai ibu gak bisa memaksa anaknya untuk melupakan Devdas. Sumitra bahkan gak keberatan kalo ternyata nanti Devdas mengajak Paro kawin lari jika itu untuk kebahagiaan anaknya. Tapi, dasar Devdas ini anak penurut. Dia lebih memilih untuk ngikutin ibunya dan gak berani kawin lari sama Paro. Padahal, Paro sempat datang dan bilang ke Devdas kalo dia gak keberatan untuk kawin lari.

Dendam karena ditolak oleh Devdas dan keluarganya, Sumitra bersumpah untuk menikahkan Paro dengan laki-laki yang lebih kaya dan lebih terhormat daripada Devdas. Paro yang sudah patah hati, langsung nurutin kemauan ibunya. Sumpah sang ibu akhirnya terlaksana. Paro menikah dengan laki-laki yang jauh lebih kaya dan terhormat daripada Devdas. Setelah menikah, Paro meninggalkan rumah dan tinggal bersama keluarga suaminya di luar kota (entah luar kota sebelah mana). Meskipun Paro sudah nikah sama cowok lain, dia tetap lo nyalain lilin yang menyimbolkan cintanya buat Devdas. Buat Paro, selama lilin itu tetap nyala, itu berarti cintanya akan terus ada buat Devdas.

Sementara itu, Devdas yang ditinggalkan Paro mulai tenggelam dalam penyesalan. Selain stress ditinggal Paro, dia juga mulai muak dengan keadaan di rumah. Dimana kakak iparnya mulai ingin merebut harta warisan keluarganya. Devdas berubah dari cowok bangsawan yang elit jadi cowok bangsawan pemabuk yang suka main ke lokalisasi. Di tempat itu dia ketemu salah satu perempuan penghibur yang memang jadi idola di lokalisasi daerah itu, namanya Chandramukhi. Chandramukhi akhirnya jatuh cinta berat sama Devdas dan memilih untuk hanya melayani Devdas.

Kisah cinta di film ini sebenarnya memang biasa. Tapi setiap adegan dibuat se-dramatis mungkin. apalagi adegan ketika Paro akhirnya menikah dengan cowok lain. Saat itu, dia menyempatkan diri untuk pamit ke Devdas. Yang lebih mengharukan adalah, Devdas sendiri yang kemudian menjadi pengiring Paro menuju ke tandu pengantin. Devdas bahkan gak keberatan untuk jadi salah satu pengiring di tandu pengantin itu. Paro yang ada didalamnya nangis sejadi-jadinya (aku juga…). Belum lagi adegan dimana Devdas dan kakak iparnya rebutan surat hak waris. Pas adegan ini, wajah Devdas gak keliatan marah ataupun gelisah. Tanpa ekspresi, dia langsung membakar surat warisan itu supaya gak diperebutkan lagi. Sementara kakak iparnya jejeritan.

Selain itu, tiap lokasi yang ada di flm ini didandani semewah dan seeksotis mungkin dengan tetap mempertahankan ciri khas India pada jaman dulu. Make-up yang dipake pemeran ceweknya juga pas. Gak berlebihan dan warnanya juga cocok. Mengingat film ini di-setting-kan pada tahun 70an, dimana warna-warna make-up pada masa itu hanya terbatas pada merah, oranye, dan coklat. Kostumnya pun dibikin sangat bagus, penuh warna dan ornamen khas India banget…

Film ini sarat akan ritual khas India dan tentu gak lepas dari adegan nyanyi dan nari. Sungguh mengingatkan alasan ketertarikanku akan film-film Bollywood. Full color, penuh ritual dan kebiasaan tradisional, ada nyanyi dan nari, emosi yang berubah dengan cepat, dan acting para pemainnya yang buagus bangetttt. Ketika acting marah, mereka gak perlu menekan otot-otot di bagian rahang, mengkomat-kamitkan bibir, memelototkan mata, atau ngacak-ngacak rambut sambil muter-muterin ruangan.

1 Komentar (+add yours?)

  1. qi3la
    Mei 16, 2011 @ 15:01:58

    aq juga suka india,,,
    pernah nonton we are family gak?
    bagus lo,,,,,
    ada lagi ganjin,,, lumayan keren,,,,
    ni alamat blog q
    moesliemsejati-aqi3la.blogspot.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: