Cerita Dikit Tentang Jualan Jamu

Sejak beberapa bulan terkahir ini aku lagi gencar banget mempromosikan daganganku, Ramuan Madura. Meskipun belum terlalu heboh berpromosi, hasilnya lumayan.

Sebenernya, keinginan untuk jualan ramuan Madura udah ada dari jaman aku S1. Cuman, baru bisa dilkerjakan sekarang. Bukan karena dapet wangsit ato apa. Tapi karena perintah langsung dari Ibu Suri. Beliau memberikanku ultimatum “hey, anakku… hari ini aku telah memutuskan bahwa kamu harus memilih salah satu pilihan untuk kamu lakukan.  Kamu menjual produk-produk ramuan Madura, atau kamu yang akan aku jual.” Wah, denger titah Ibu Suri yang tak bisa dihindari dan pilihan keduanya sama sekali gak menyenangkan, ya aku pilih untuk jualan ramuan Madura aja. -> kisah ini cuma fiktif belaka.

Produk-produk ramuan Madura yang aku jual memang bukan bikinan keluargaku sendiri. Aku hanya menjadi semacam distributor yang menyalurkan produk-produk itu kepada pembeli. Tentu saja aku menerima permintaan grosir dan eceran juga. Sebelum jualan, aku memang sudah pernah pake produk-produk itu. tentunya, produk yang sesuai sama kebutuhanku. Kaya’ bedak dingin, sabun muka, jamu jerawat, lulur, dll. Kalo favorit Ibu Suri, dupa/ratus wangi yang sering dipake sebagai pewangi ruangan.

Awalnya, Ibu Suri meminta untuk memasarkan produk-produk untuk pasutri. Karena memang ramuan Madura itu sebagian besar ditujukan untuk pasutri. Meskipun tetap ada juga produk untuk cewek-cewek single yang manis cantik seksi dan spektakuler macem aku ini (ahay!!!!). Akhirnya aku gak masalah jualan produk-produk untuk pasutri itu, tapi aku sediain cuma kalo ada yang minta. Sedangkan yang ready stock ya produk-produk yang universal seperti lulur, bedak dingin, sabun, jamu (galian singset, jerawat, remaja putri, galian montok).

Jualan produk-produk berbahan dasar herbal memang gampang-gampang susah. Gampang, karena orang-orang percaya bahwa produk-produk tersebut tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya buat tubuh. Selain itu, nama ramuan Madura sendiri memang sudah cukup populer sehingga membuat aku lebih gampang jualan. Susahnya, ketika banyak dari para calon pembeli yang kepengen melihat hasilnya dengan cepat. Ramuan Madura berbeda dengan produk obat yang beredar di luar sana. Ramuan Madura (terutama jamu-jamunya), karena terbuat dari bahan alami yang menggunakan sedikit sekali bahan kimia berbahaya tentu saja gak bisa serta merta menunjukkan hasilnya seperti obat-obatan atau melakukan perawatan di klinik-klinik perawatan tubuh. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Karena memang jamu itu memiliki syarat utama yang harus diikuti yaitu, untuk dikonsumsi secara teratur demi mendapatkan khasiat yang sempurna.

Salah satu contohnya, Jamu Galian Singset. Kebanyakan orang selalu pengen kurus dengan cara instan. Padahal, kurus dengan cara singkat itu adalah pilihan terburuk meskipun tentu saja bisa dilakukan kalo mau. Produk jamu Galian Singset tentunya tidak bisa dijadikan pilihan untuk menguruskan badan secara singkat dalam waktu empat sampe tujuh minggu. It takes more time!!!! Tentunya dengan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi para konsumennya. Keinginan untuk kurus tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan jamu Galian Singset. Jamu pun membutuhkan dukungan dari sang konsumen untuk bekerja maksimal. Fungsi dari jamu Galian Singset hanyalah membakar lemak dan melancarkan metabolisme tubuh. Semua fungsi tersebut akan berjalan dengan baik jika diimbangi dengan berolahraga secara teratur dan membatasi makan. Membatasi makan disini maksudnya bukan melarang diri sendiri untuk makan di jam-jam tertentu, bukan. Tapi lebih cermat dalam memilih makanan untuk dicerna oleh tubuh. Diet is a lifetime program (ini pendapat pribadi).

By the way, aku sendiri pernah minum jamu Jerawat dan yang remaja putri dulu waktu S1. Hasilnya bagus, aku sempat bertahun-tahun minum. Sampe akhirnya aku berhenti gara-gara sibuk (lupa ngapain dan kapan tepatnya berhenti minum). Sekarang, aku balik lagi minum jamu dalam bentuk butir-butir bulat berwana gelap itu. Bukan apa-apa, aku sering tergoda ngeliat stok jamu yang ada dan nyolong satu, dua, tiga (banyak juga ternyata, pantesan setoran ke Ibu Suri selalu kurang) buat aku pake sendiri.

Iklan

Just Wanna Share Something

Keluargaku sama sekali bukan keluarga yang sempurna. Kami gak pernah pergi jogging bersama2 di pagi hari, kami gak pernah berdiskusi secara terbuka di ruang keluarga atau saat makan, kami bahkan jarang makan bersama dalam satu meja. Meskipun saat itu seluruh anggota keluarga lagi ngumpul. Ketidaksempurnaan yang dulu (jaman aku masih abg culun yang tetap manis dan cantik) sempat aku ratapi (halah, bahasa dangdut) dan aku sesali juga. Di keluargaku, demokrasi itu cuma mitos, kalo diumpamakan dengan negara, mungkin keluargaku ini menganut sistem monarki absolut. Kalo sekarang seh ke-absolutannya berkurang, dibandingkan jaman aku abg dulu. Ternyata waktu sanggup menekan ego sampai ke titik yang paling rendah.

Selain orangtua, keluarga intiku juga terdiri dari dua orang adek (cewek dan cowok). Aku dan adekku yang cewek (Ani) boleh dibilang (terpaksa) deket. Banyak faktor yang bikin kami deket. Pertama, usia kami gak terlalu jauh, cuma beda 2 taun. Kedua, kami tumbuh di lingkungan yang sama. Karena beda usia yang gak terlalu jauh, sejak TK sampai SMA kami sekolah di sekolah yang sama, bahkan dulu kami sempat ngaji di guru yang sama (meskipun akhirnya adekku cabut dan pindah ke guru ngaji lainnya, karena gak tahan sama kegalakan sang guru). Karena itu, kami juga saling tau dan kenal dengan teman-teman kami. Aku seh, bersyukur karena adekku tau temen-temenku. Seringkali, aku lupa dengan temen-temen sekolahku, dan dia yang ngingetin aku (hehe…). Selain itu, sejak kecil kami juga sering dipakai-kan baju yang seragam oleh mama (ma, teganya dirimu….).

Tumbuh di lingkungan yang sama dengan adekku jelas sempat bikin aku tertekan. Aku jadi agak sulit berekspresi jaman abg dulu. Setiap aku bertingkah, pasti adekku ngadu sama mama dan papaku. Padahal, masa-masa abg adalah masanya darah muda yang kepanasan itu untuk diekspresikan seliar-liarnya (ngemeng epe ini….). Sedangkan adekku yang kecil, Iqbal gak terlalu deket dengan aku. Selain karena jarak umur kami bedanya terlalu jauh (7 taun), dia juga cowok yang mainan dan ketertarikannya beda denganku. Waktu kecil, Iqbal ini agak emosional dan sulit berbagi. Selain orangtua dan adek-adekku yang ….. (gak tega nulisnya), ada juga asistennya mama yang setia dengan keluarga kami. Dia itu yang bantuin mama membesarkan kami bertiga dan menjaga rumah.

Meskipun tidak sempurna dan sempat membuatku desperado, buatku mereka tetap prioritas utama dalam hidupku. Seiring dengan berjalannya waktu, aku bisa menerima segala ketidaksempurnaan itu. orang tuaku yang semasa mudanya sibuk memenuhi ambisinya, ternyata punya cinta yang luar biasa untuk kami anak-anaknya. Mereka yang dulu tidak pernah meminta pendapatku tentang apapun, ternyata punya maaf yang tak ada batasnya. Ani, adekku sekarang jadi teman terbaik, kritikus terkejam, dan pelawak terlucu (dia bahkan bisa lebih lucu daripada rombongan OVJ). Adek bungsuku, Iqbal sekarang jadi tempat aku menanyakan berbagai hal tentang teknologi dan aku bersyukur punya adek cowok yang rentang usianya jauh. Karena dia, aku jadi bisa ikutan maenan PS 1 dan 2 (waktu aku kecil, aku gak punya maenan yang canggih). Selain itu, karena dia juga aku sempat nginstall The Sims 2 dan 3 di komputer yang sudah di-up grade. Jadi, pas aku maen The Sims 2 dan 3 itu gak ada ceritanya komputer lelet atau nge-hang. Setelah sebesar sekarang, Iqbal jadi lebih sabar mengahadapi aku (tapi tetep aja, masih bawel).

Keluargaku memang gak sempurna dan gak akan pernah sempurna. Aku sudah menerimanya, bukankah sudah seharusnya orang-orang yang tidak sempurna seperti kami ini berkumpul dalam satu rumah dan menjadi satu keluarga. Ditengah ketidak-sempurnaan itu aku menemukan tempat perlindungan (udah kaya’ kantor kedutaan aja) terbaik di dunia.