Rock n Roll di Ibukota (1) :D

Jakarta adalah ibukota Negara kita tercinta. Jakarta juga adalah kota metropolitan. Gemerlapnya ibukota mampu menarik jutaan manusia untuk mengadu nasib disana. Dan salah satu yang terjerat (atau mungkin terperangkap) dengan gemerlapnya ibukota adalaaaaahhhh….. SAYA! Kira-kira sudah dua bulan lamanya saya ikut jumpalitan di ibukota bersama dengan jutaan orang lainnya yang bernasib sama.

Mau apa di Jakarta? Kenapa harus Jakarta? Memangnya Surabaya gak cukup, kok harus hijrah ke Jakarta? Itu adalah sekian pertanyaan dari jutaan pertanyaan yang harus saya jawab saat acara meet and greet bersama penggemar-penggemar di Surabaya dan Madura *dilempar ulekan*. Meskipun agak kewalahan menghadapi rasa penasaran penggemar yang tak terpuaskan, saya hanya bisa menjawab “demi meraih impian dan menjadi istri dari salah satu pria multi milyuner Indonesia, saya terpaksa melakukan ini”. Berbekal atribut make up seadanya, high heels yang gak terlalu high, mini skirt yang gak terlalu mini (damn! I forgot my lingerie) saya siap ber-rock n roll di ibukota.

Rock n roll di ibukota jelas beda dengan rock n roll di Surabaya, kota tercinta saya. Di Surabaya, saya bisa dengan mudah menyusuri tiap sudut kota bersama dengan motor andalan berbekal ancer-ancer dari papa saya yang hapal setiap sudut kota. Sedangkan di Jakarta, untuk menyusuri setiap sudut kota saya harus memanfaatkan sex appeal saya untuk sampai ke tempat tujuan dengan selamat😀.

Setiap akan pergi, pertanyaan pertama saya adalah; kesana naik apa? Pertanyaan yang selalu saya lontarkan pada saudara sepupu saya dan istrinya, yang selama dua bulan ini berbaik hati menampung saya (thanx alot!). Meskipun sudah dibekali ancer-ancer berupa angkot yang harus saya naiki untuk sampai ke tempat tujuan oleh saudara saya, seringkali saya nyasar karena satu dan lain hal.

Salah turun halte, salah naik bis, ketiduran di trans Jakarta yang menyebabkan saya terbawa dari Semanggi sampai ke Pluit, lari-lari di atas jembatan penyeberangan demi mengejar bis trans BSD yang sudah di depan mata (yang berbuah kegagalan), dan ketinggalan bis trans BSD terakhir, adalah peristiwa yang mewarnai hari-hari saya selama di Ibukota. Salah turun halte, saya manfaatkan sebagai peluang untuk mendekati mas-mas ganteng yang beredar di sekitar halte. Dengan membuka dua kancing baju, mempertebal lipstick, mengangkat rok supaya lebih mini lagi, dan memasang senyum termanis, saya kemudian bertanya sambil mendesah pada mas-mas yang beruntung “maaaasssss, ke bunderan senayan naik apa ya…?”

*bersambung ke tulisan berikutnya, yang entah kapan bisa saya postingkan*

1 Komentar (+add yours?)

  1. Mellisa
    Jul 01, 2011 @ 11:01:47

    wkwkwkwkwkwwk.. tarian ular lu g ditulis juga..
    jadi inget sama mas *lupa namanya yang ngatain dodo kuliah di jurusan komunikasi hewan, xixixixixixi
    sukses selalu yah ra…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: