Almost Midnite Short Story

Sudah hampir setengah jam kamar mandi itu terkunci dari dalam. Sunyi tanpa suara desiran air yang meluncur baik dari shower maupun kran wastafel. Hanya ada seorang gadis berusia 20an di dalam, Yana namanya. Sedari tadi yang dikerjakannya hanyalah duduk diam, dalam balutan tank top putih dan celana pendek berwarna senada. Beberapa saat yang lalu gadis itu sempat  terbelalak sejenak hingga akhirnya menangis, saat melihat simbol yang muncul dari test pack yang baru saja digunakannya.  Terduduk lemas di atas kloset duduk yang tertutup, dengan tangan kanan masih memegang erat test pack yang menunjukkan simbol bahwa di dalam tubuhnya bersemayam benih manusia baru. Benih yang akan mengubah hidupnya dan kelak akan menjadikannya ibu.

Sejenak Yana memutar kembali ingatannya pada peristiwa kurang lebih sebulan yang lalu. Saat dirinya bertemu kembali dengan seorang lelaki yang datang dari masa lalu. Lelaki yang pernah jadi pujaan hatinya kala itu. Tentu saja dirinya kemudian hanyut dalam sensasi kejutan yang membangkitkan adrenalinnya. Membangkitkan kembali hasrat terpendamnya di masa lalu dan merengkuhnya di kala itu. Tak pernah sedetik-pun tersirat dalam akal sehatnya apa yang akan terjadi padanya sebulan kemudian  setelah malam itu. Bagaimana dia bisa berpikir jika pada malam itu, akal sehatnya menyerah pada hasrat yang menderu menyeruak menyesakkan seluruh persendian dalam tubuhnya.

Dari bayangan kenangan masa lalu, Yana kembali ke masa kini. Bagaimana mungkin pertemuan malam itu memberikan dampak yang sebesar ini. Bagaimana bisa spontanitas itu berujung pada sebuah tanggung jawab yang begitu besar. Memberinya kehamilan yang tak pernah direncanakanannya dari seorang lelaki bagian dari masa lalunya.

Sempat terbersit bayangan keji dalam dirinya. Untuk mengembalikan apa yang ada dalam tubuhnya kepada sang Pencipta. Bukan hal yang sulit untuk mencari dokter yang berpengalaman untuk melakukannya. Prosesnya pun tak akan lama, setelah itu dia akan kembali menjalani hidup seperti sebelumnya. Saat dirinya tak tau ada bayi yang masih sangat prematur di rahimnya. Saat sebelum dia melakukan uji kehamilan dengan media test-pack, ketika dirinya sadar bahwa dalam satu bulan dia tak juga mendapatkan kunjungan dari tamu bulanan yang selalu rutin datang. Mengingat usia sang bayi masihlah dini dan perutnya masih belum membesar. Bisa saja dia beralasan pada dokter bahwa bayi itu adalah hasil perkosaan yang membuatnya trauma. Sehingga sang dokter paling tidak memberikannya simpati dan mendukung tindakannya.

Ya itulah yang akan dilakukannya, mencari dokter berpengalaman untuk mengembalikan apa yang dititipkan sang Pencipta di dalam rahimnya. Mengembalikannya sebelum terlambat dan menimbulkan masalah yang lebih besar untuk dirinya maupun keluarganya. Dengan langkah pasti, Yana kemudian bangkit dan meninggalkan kamar mandi. Hidupnya akan kembali tanpa beban sebesar ini. Ya, hanya perlu bantuan seorang dokter. Tangannya meraih handphone yang tergolek di atas tempat tidurnya, masih terhubung dengan charger. Mulai mencari nama salah seorang dokter kenalannya.

Beberapa saat, tangannya berhenti mencari pada phonebook di handphone-nya. Yana kembali berpikir. Apa yang terjadi jika dia membiarkan sang bayi tumbuh dalam rahimnya dan hidup sebagai manusia baru. Apakah dia justru akan lebih bahagia jika ada bayi yang menemaninya. Mungkinkah benih ini adalah jawaban untuk kehampaan yang setiap saat menemaninya. Bagaimana jika dia membesarkan bayinya sendiri, apakah sang bayi nantinya mampu menjadi pelipur lara baginya.  Ketika kekasih, keluarga, dan pekerjaannya bahkan tak mampu mengalihkan kesepian yang dirasakannya, apakah sang bayi adalah jawabannya. Me and my baby versus the world, batinnya. Rasanya tak seburuk bayangannya di awal tadi.

Tersadar dari lamunannya, Yana akhirnya menghubungi seseorang. Apapun keputusannya tetap saja dia perlu menghubungi orang lain. Dengan perasaan tak karuan, degup jantung memburu, Yana menunggu jawaban dari sang pemilik nomer yang dihubunginya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Best of Me

Think I’m steel
Tough as nails
Never feel
Never fail
But you’re wrong
So damn wrong
Feel the weight
Of your hate
I still bleed
My heart aches
As you take
And You take

Words cut through my skin
Tears roll down my chin
My walls crumble within
But I’ll take it all on
And get up when I fall
Till the last curtain call
But you’ll never get the best of me
No more
Said you’ll never get the best of me
No more
Aren’t you tired of throwing stones
Trying to kick me when I’m down
But you’ll never get the best of me
No you won’t

So you’re cold
Made of ice
Heart of stone
Born to fight
But I cry
I still cry
Are you happy
You know
I’m unhappy
Alone
Take your shot
I’m wide open

Heartbroken an beaten
Knocked down and mistreated
I will rise undefeated
I will not let you bring me down
Now the pain is deleted
And I will never repeat it
No I won’t let you bring me down