Kapan – Kapan

Beberapa waktu lalu di bulan suci Ramadhan, bulah maghfirah, bulan penuh ampunan dan berkah, saya beberapa kali mendapat ajakan untuk hadir dalam acara buka bersama. Saya beberapa kali datang ke acara buka bersama ini, bukan karena menghargai acaranya tapi pada bulan ini di jam berbuka tempat – tempat karaoke tutup, bioskoppun sedang ditutup saat jam berbuka dan baru dibuka kembali pukul delapan malam. Acara buka bersama biasanya sering jadi reuni dadakan dan dihadiri teman – teman yang lama tidak bertemu, saking lamanya sehingga suasana mengharu – biru kemudian menyelimuti dan setiap orang yang ada menitikkan air mata. Seolah kami sedang berada di acara “Tali Kasih Yang Terputus Karena Karetnya Sudah Lapuk”.

Selayaknya umat manusia yang telah lama dipisahkan oleh waktu, kesibukan masing – masing, dan tidak adanya inisiatif untuk bertemu meskipun berada di kota yang sama, kami memulai percakapan dengan saling menanyakan kabar dan pekerjaan. Ketika suasana mulai mencair barulah keluar tawa dan obrolan kesana kemari ibarat kelompok penari poco – poco, melenggang ke berbagai arah tetapi tetap berada di tempat yang sama. Dan ketika tiba waktunya untuk saling undur diri, sudah pasti ada makhluk – makhluk yang mengeluarkan perkataan ajaib seperti ini “oh, kamu kerja disitu? Sekantor sama mantanku, kapan – kapan aku kirimin bom kesana”. Atau seperti ini “udah aku simpen nomermu, nanti kapan – kapan tak sebarin di toilet – toliet umum di stasiun dan terminal” dan berbagai macam kalimat penutup bernada serupa dengan kata ajaib “Kapan – Kapan”.

Kapan – kapan tidak hanya ramai beredar saat acara – acara buka bersama seperti yang saya ceritakan di atas, tapi selalu jadi kata ajaib yang menyertai setiap janji – janji manis. Biasanya sih, orang – orang sudah paham untuk gak ngarepin setiap pernyataan yang disertai “kapan – kapan” ini. Hampir semua umat manusia yang lahir dan besar di Indonesia Raya (ini berlebihan, tapi ya sudahlahya terima saja) sudah pasti pernah dan sering menggunakan kata ajaib ini, “kapan – kapan”. Saking seringnya menambahkan kata ajaib ini dalam setiap janji, akhirnya “Kapan – Kapan” ini seolah menjadi imbuhan wajib dalam setiap pernyataan banyak orang. Disadari ataupun tidak. Beberapa orang yang sudah kenyang kena modus kapan – kapan ini kemudian mengimbangi lawan bicaranya dengan jawaban seperti ini jawaban “kapan maz, kapan? Kapan kamu inget pulang maz, KAPAN?!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: