Lame Love Story Left

Tak ada yang aneh dari situasi rumah sakit siang itu. Perawat hilir mudik dari satu kamar pasien ke kamar pasien lainnya entah itu sendiri untuk mengganti cairan infus pasien maupun bersama dokter untuk mencatat peekembangan pasien, sebagian dokter tengah sibuk mempersiapkan operasi, dokter lainnya siaga menjalankan tugas di kliniknya masing – masing, petugas kebersihan lalu lalang memastikan terjaganya kebersihan rumah sakit,  pasien datang dan pergi silih berganti, begitupun keluarga pasien yang datang menjenguk atau menginap menemani sang pasien. Diantara keriuhan dalam keheningan rumah sakit itu, di salah satu kamar VVIP terdapat dua manusia yang sama sekali tak terusik oleh rutinitas rumah sakit diantara mereka. Keduanya saling menatap nanar, dari tatapan mata keduanya seolah menyiratkan ribuan makna yang tak mampu terurai oleh kata.

Janeta, perempuan berusia 37 tahun mengenakan celana jins belel dengan aksen sobek – sobek di bagian paha sampai pertengahan betis dan kaos putih polos,  blazer putih bermotif bunga, dan clutch bag berwarna putih di tangan kirinya senada dengan warna high heels yang dikenakannya berjalan tergesa menuju sebuah ruangan kamar pasien di rumah sakit itu. Ibu dari tiga orang anak dan istri dari seorang pengacara itu tetap tampak terlihat jauh lebih muda dari umur sebenarnya. Janeta memanfaatkan waktu luangnya yang saat ini tengah mendampingi suaminya menangani sebuah kasus hukum di kota itu. Janeta tak sendiri mendampingi sang suami, tiga anaknya, ibu, dan ayahnya ikut serta dalam perjalanan ini. Sekalian menemani cucu liburan, begitu alasan Janeta pada suaminya ketika mengajak kedua orang tuanya. Sebelum memburu langkah di rumah sakit, Janeta menitipkan anak – anak kepada kedua orang tuanya yang kini tengah menikamti keindahan salah satu cagar budaya peninggalan sejarah yang pernah tercatat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Selintas terlihat raut kekhawatiran dalam wajahnya yang tetap cantik terawat, tanpa kerutan dan hanya berbalut make up tipis dengan lipstik merah warna favoritnya dan alis yang tergambar dengan sempurna. Janeta tak menghiraukan bahwa kecemasan yang bercampur ketergesaannya melangkah telah mengucurkan keringat di tubuhnya. Hingga akhirnya dia berhenti di depan sebuah pintu dari sebuah ruangan kamar pasien. Janeta mulai mengatur nafas dan mengusap peluh di wajahnya dengan tisu dari dalam clutch bagnya. Setelah membuang tisu yang digunakannya mengusap peluh di wajah, secara perlahan dibukanya pintu kamar pasien VVIP itu dan ditutupnya kembali tanpa suara. Usahanya sia – sia karena Arman, pasien yang tergolek di atas tempat tidur masih terjaga dengan sepenuh hati melawan pengaruh obat untuk melihat tamu yang menjenguknya.

Arman, lelaki berusia 40 tahun lebih yang kini tergolek lemah di rumah sakit karena komplikasi gagal ginjal dan hepatitis C itu kini menyunggingkan senyum ketika telah melihat dengan jelas tamu yang datang menjenguknya. Sudah tiga hari dia menghabiskan waktunya di rumah sakit tanpa pernah kesepian, karena teman – teman dan keluarganya yang bergantian datang menjenguk. Sebagai seorang pemilik cafe dan juga pelukis yang cukup populer, wajar baginya jika selalu dikelilingi teman – teman yang sebagian besar telah menjadi rekan kerjanya. Arman menikmati kesendiriannya dengan meneggelamkan diri di cafe kecilnya yang tak pernah sepi pengunjung. Jika tidak berada di cafe, dia pasti menyepi ke suatu tempat untuk melukis. Lukisan yang sebagian besar menghiasi dinding cafe dan rumahnya. Sebagian lainnya dibeli oleh penggemar lukisannya. Sepuluh tahun berpisah dari Janeta, Arman sudah berhenti berharap bahwa mereka akan bisa kembali bersama.

Oleh karena itulah, kedatangan Janeta mantan kekasihnya adalah kejutan terbesar bagi Arman saat ini. Bagaimanapun cintanya terhadap Janeta, tak mungkin dia mendekapnya kembali semenjak sang mantan kekasih memilih menikahi laki – laki lain sepuluh tahun lalu dan kini menjadi ibu dari tiga anak. Dengan sekuat tenaga, Arman melawan pengaruh obat yang diberikan oleh perawat beberapa menit lalu. Dia tak ingin melewatkan sedetikpun momen saat ini. Kepalanya menoleh ke arah kiri tempat pintu dimana Janeta berdiri menatapnya. Keduanya saling menatap dan melemparkan senyum penuh arti.

Janeta berjalan perlahan mendekati Arman tanpa memutuskan tatapan dan senyumannya pada pria itu. Setelah berada cukup dekat di sisi kiri tempat tidurnya, Janeta meraih tangan Arman dan menggenggamnya. Tangan yang sama yang dulu, sebelas tahun lalu pernah menggenggamnya. Tangan dari tubuh yang masih sekekar dulu, meski kini tak lagi bertenaga. Tubuhnya ternyata takluk oleh obat – obatan yang membantunya bertarung melawan komplikasi penyakit yang dideritanya. Arman dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan nyeri di pergelangan tangan kanan yang tersambung pipa infus menggeser sedikit badannya ke arah kanan, seolah memberi ruang untuk Janeta duduk di sampingnya. Janeta tersenyum, tanpa melepaskan genggaman tangannya dia duduk di sisi tempat tidur Arman.

“Hai…” sapa Janeta pada Arman dengan mata yang entah mengapa memancarkan kebahagiaan teramat sangat. Bahagia dan terharu terpancar dari matanya yang kini menatap lekat Arman. “Hai…” Arman balas menyapa dengan sisa tenaga yang susah payah dikumpulkannya. “Ka… Mu… Apa… Ka…  Bar…? Happy?” dengan terbata, Arman masih berusaha memulai pembicaraan. Bagaimanapun dia tak ingin menyia – nyiakan momen ini. Dia akan berusaha untuk bicara sepanjang dan selebar dia mampu.

“Baik, alhamdulillah… Kamu… Kenapa bisa seperti ini?” balas Janeta sambil mengusap tangan Arman. “Gaya hidup. Huh… Hari – hari di cafe, kalau enggak… Ya ngelukis.” Arman mulai lancar berbicara. Bukannya menjawab, tangis Janeta mulai pecah. Airmatanya perlahan keluar dan membasahi pipinya. “Loh, kok nangis… Aku gak apa – apa. Paling minggu depan sudah sembuh dan sehat lagi.” hibur Arman yang kini balik menggenggam tangan Janeta. “Raka… Sekarang kelas berapa? Koleksi barbie si kembar Mayang dan Lila sudah sebanyak apa sekarang?” Arman kembali mengulang pertanyaan mengenai kabar anak – anak Janeta. Janeta mengusap air matanya dan kembali menatap Arman, “kamu inget nama anak – anakku dan tahu hobi koleksi barbie si kembar…” Janeta bergumam tanpa sedikitpun rasa heran. “Well… I am your secret stalker…” tawa keduanya pecah dalam keheningan ruangan itu.

“Sepertinya cafe dan melukis belum cukup menguras waktu dan tenaga kamu. Sampai kamu… Masih ada waktu untuk stalking… Memangnya… Kamu umur berapa…” Janeta menimpali di sela tawa mereka. “Sepertinya Raka, Mayang, dan Lila lebih besar maknanya daripada karir kamu. Aku gak pernah membayangkan bisa melihat kamu seperti ini. Full time mommy. Ibu…” Arman menelan sisa kata – katanya, seolah terlalu pahit untuk diucapkan. Bukan untuk Janeta, tapi untuknya sendiri.

“Aku akan selalu ada waktu untuk cari tahu kabar kamu. Memastikan kamu bahagia. Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun…” sambung Arman kemudian sambil meraih tangan Janeta dalam genggaman dan mengecupnya. “I love you, Arman.” Arman tak tahu lagi harus menjawab apa. Diapun masih sangat mencintai Janeta.

“I love you more, Janeta… ” akhirnya Arman membalas ucapan Janeta. Kerinduan dan penyesalan selama lebih dari sepuluh tahun yang dipendamnya sudah tak mampu lagi dia tahan. “Bohong. Kalau cinta, kenapa tinggalin aku ke Everest?” Janeta melepas tangannya dari genggaman tangan Arman dan berusaha menghapus air mata yang membanjiri pipinya.

“Kamu juga bohong. Kalau cinta, kenapa nikah sama orang lain?” balas Arman, keduanha kemudiam tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan kegetiran peninggalan sesal di masa lalu.

“Kamu pergi, ngilang gitu aja, dan tiba – tiba kamu dan teman – teman kamu memposting foto – foto pendakian di puncak Everest di instagram dan di path. Gak ada kabar setelahnya dari kamu. Kamu juga jadi susah dihubungi waktu itu.” Arman menundukkan kepala, diam dan tenggelam dalam penyesalan. “I was pregnant, Arman… Kamu ngilang seminggu setelah aku kabari kalau aku hamil. Menurutmu aku harus apa…”

“Maaf… Aku harusnya bisa jauh lebih baik dari itu…” diantara ribuan penyesalan dari kebodohannya, hanya itu yang bisa diungkapkan Arman saat itu. Ya benar, Arman mendapat serangan panik sebelas tahun lalu, saat Janeta datang ke rumahnya memberi kabar kehamilannya. Bahwa dia sudah telat datang bulan selama dua bulan. Saking paniknya dia bahkan mengiyakan ajakan teman – temannya untuk menaklukkan puncak Everest, yang membuatnya kehilangan Janeta setelahnya. Janeta memilih merelakan bakal calon anak mereka untuk pergi selamanya kemudian menerima lamaran lelaki lain yang dipacarinya hanya dalam waktu empat bulan saja. Seorang pengacara muda yang saat itu tengah meniti karir. Pengacara yang dikenalkan teman kerjanya hanya selang beberapa bulan setelah pendakian Arman.

“I had a career and family, Arman. Aku gak bisa nunggu tanpa kepastian dari kamu. Itu pilihan yang harus aku ambil. Setelah kamu pergi…”

“Aku gak nyalahin kamu…”

“Bayangan kita bisa hidup bersama itu selalu ada di kepalaku. Tempatku harusnya di samping kamu waktu itu. Bukan di puncak Everest.”

“Karena kamu goblok…” timpal Janeta sambil tertawa yang kini berdiri di samping tempat tidur Arman.

“Iya… Karena aku goblok. Banget…” balas Arman dengan getir. Keduanya kemudian tertawa dan dalam hitungan detik, keduanya diam. Tenggelam dalam tatapan satu sama lain.

“Tapi kita berhasil mewujudkan mimpi untuk pergi ke Prancis dan mengunjungi Eiffel tower.” Arman menyambung ucapannya yang disambut lirikan sini dari Janeta.

“Huh, lucu. Kita bisa ketemu lima tahun lalu di depan Eiffel tower, sedangkan kita perginya sendiri – sendiri. Aku bersama suami dan anak – anak. Kamu…”

“Aku pergi sendiri waktu itu. Aku cukup lama tinggal disana, sekitar tiga bulanan rasanya.”

“Dulu kita nabung setengah dari gaji kita untuk kesana bareng…” ucap Janeta.

“Aku jadi inget dengan tabungan kita itu. Kamu pakai buat apa jadinya?” tanya Arman.

“Tas dan sepatu branded pertamaku dari tabungan kita itu.” jawab Janeta.

“Aaah…” Arman tersenyum mendengar jawaban Janeta. Dulu setahunya dia tak pernah suka dengan barang branded dari luar negeri.

“Good for you, marrying a successful  lawyer.” sindirnya yang dibalas Janeta dengan senyum kecut.

“Cuma Tuhan dan aku yang tahu betapa inginnya aku bertahan waktu itu. Begitupun sekarang… Cuma Tuhan dan aku yang tahu… Betapa inginnya aku ada di samping kamu saat ini. Jagain kamu 24 jam 7 hari.” ucap Janeta yang memecah keheningan. Menatap Arman yang menggenggam tangannya dan meletakkannya di dadanya.

“Bagaimana bisa kamu mencintai aku padahal kamu menikah dan hidup dengan orang lain selama sepuluh tahun ini…”

“Karena aku gak bisa berhenti mencintai orang yang dulu pernah aku cintai. Meskipun dia ninggalin aku dan memilih mendaki gunung… Meskipun sekarang dia sedang sekarat di rumah sakit…” jawab Janeta sambil tersenyum penuh getir.

“Hey… Aku datang ke rumah kamu sebelum kamu nikah, kan… Aku juga datang di pernikahan kamu.”

“Jauh lebih berarti kalau kamu ada di samping aku sebelas tahun lalu. Setelahnya, kamu gak memberi manfaat apa – apa lagi…”

“Aku pikir, setelah kepergian kamu dan anak kita… Aku akan dengan mudah move on…” lanjut Janeta.

“Jadi, selama sepuluh tahun ini… Kamu gak cinta sama suami kamu?” pancing Arman yang diam – diam memendam sedikit harapan.

“Cinta. Kalau enggak, gak mungkin aku bertahan sepuluh tahun…” balas Janeta dengan menggantung kalimatnya.

“But…  you love me a little bit more…?”

Mendengar ucapan seperti itu dari Arman, Janeta hanya membalasnya dengan menyunggingkan senyum. Beberapa saat kemudian Arman mengecup tangan Janeta, “pulanglah… Kamu gak seharusnya disini. Raka, Mayang, dan Lila lebih butuh kamu daripada aku.”

“Jangan ajari aku untuk jadi ibu buat anak – anakku…”

“Kalau begitu, pulanglah supaya aku gak dituntut suami kamu…” Keduanya tersenyum kemudian terdiam.

Arman kemudian perlahan mulai memejamkan matanya. Dia memilih menyerah pada pengaruh obat yang sedari tadi dilawannya demi Janeta. Kini dia memilih tidur. Karena di dalam tidurnya dia bisa melihat dengan jelas angan – angan yang dimimpikannya selama sepuluh tahun. Angan – angan membangun keluarga bersama Janeta dan anak mereka. Dalam angan – angan itu, dia akan aelalu pulang ke pelukan Janeta. Lepas dari kecanduan alkohol yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya. Lepas dari ketergantungan merokok yang bagaikan bernafas, tak mampu dihentikannya. Bahkan pada saat dirinya tenggelam dalam hobi melukisnya. Dalam gurat kuas lukisannya, dia mencurahkan kegundahannya. Semakin dalam gurat kuas lukisan pada kavasnya, semakin banyak batang rokok yang dihabiskannya.

Tak berapa lama setelah Arman lelap dalam tidurnya, Janeta pergi. Menutup pintu secara perlahan dari luar ruangan kamar pasien VVIP itu, supaya tidak mengganggu penghuninya yang telah terlelap tidur dibawah pengaruh obat.

Setelah melangkahkan kaki ke parkiran tempatnya memarkir mobilnya, Janeta menyempatkan diri menikmati saat yang sepi di mobil untuk dirinya.  Dikeluarkan selinting rokok yang kemudian dibakar dengan pemantik api dari clutch bagnya. Janeta menikmati setiap isapannya. Masih teringat jelas dalam ingatannya, betapa bahagianya dia dan Arman sebelas tahun lalu. Tertawa lepas menertawakan hidup, menciptakan dunia mereka sendiri dimana hanya ada cinta yang cukup untuk membuat mereka bahagia, tanpa terusik bisikan dan gangguan dari siapapun. Cinta tanpa perlu saling menilai dan menghakimi satu sama lain, cinta tanpa pretensi dan tuntutan. Janeta sesekali tersenyum getir, setiap bayangan akan masa lalunya bersama Arman muncul. Mencuri waktu untuk merokok sendiri sudah dilakukannya sejak menikah dan memiliki anak. Baginya ini sudah seperti liburan terindah.

Setelah menghabiskan tiga batang rokok, Janeta kemudian membuka lebar semua kaca jendela mobilnya, menyemprotkan pewangi mobil sebanyak – banyaknya, meraih permen mint di dashboard, namun tangannya terhenti ketika melihat buku mewarnai yang tergulung, tersimpan disana bersama crayon. Buku mewarnai dan crayon milik anak – anaknya. Janeta tersenyum, buku mewarnai itu seolah alarm yang membangunkan dari tidur dan mengingatkannya untuk menerima kenyataan dan menjalani hidup di masa sekarang. Buku mewarnai dan segala benda milik anak – anaknya yang selalu tercecer di sekitarnya. Perlahan Janeta menjalankan mobilnya, menuju anak – anak dan kedua orang tuanya. Alasannya untuk tetap menjaga kewarasan.

Iklan

Menjaga Keseimbangan Metabolisme Tubuh Dengan Diet Tepat.

Ada begitu banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat modern untuk menjaga kesehatan . satunya, menjaga pola makan dengan menerapkan metode diet tertentu.

Diet adalah upaya masyarakat modern untuk menyeimbangkan metabolisme tubuhnya dengan aktifitas harian yang menyita pikiran dan tenaga. Metode diet berkembang sangat pesat dalam lima tahun terakhir ini. Perkembangan metode diet ini seiring dengan berkembangnya gaya hidup masyarakat modern yang memiliki banyak aktifitas dan pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas tubuhnya.

Jika pada awalnya diet hanya bertujuan menurunkan berat badan dan mendapatkan bentuk tubuh yang dirasa ideal, maka saat ini diet lebih merupakan gaya hidup orang – perorang maupun komunitas tertentu.

Berikut adalah lima metode diet yang cukup populer saat ini adalah :

1. OCD
Metode diet ini dipopulerkan oleh Deddy Corbuzier yang menitik beratkan pada jendela makan. Tubuh kita diberikan jendela makan selama 8, 6, dan 4 jam sesuai kemampuan tubuh. Sisanya, tubuh diajak untuk membakar lemak dengan berpuasa. Pada masa jendela makan, kita diperbolehkan untuk makan apa saja sementara selama berpuasa, kita didianjurkan untuk hanya minum air putih dan minuman lain bebas kalori.

2. Mayo Diet
Metode diet mayo menitik beratkan penganutnya untuk menghindari makanan yang diolah dengan cara digoreng, bercita rasa asin, dan mengurangi konsumsi nasi putih.

3. Mediteranian Diet
Metode ini menekankan untuk mengkonsumsi makanan mentah tanpa melalui proses pengolahan yang lama. Makanan mentah dipercaya memiliki kandungan gizi dan serat yang lebih besar jika dibandingkan dengan makanan yang telah melalui proses pengolahan. Makanan yang dianjurkan adalah buah – buahan dan sayuran segar, minyak zaitun, ikan, dan mengkonsumsi red wine sesekali dalam sebulan.

4. The Zone Diet
The Zone Diet adalah metode diet yang mengatur prosentase asupan makanan dengan rincian : 40 % karbohidrat, 30 % protein nabati, dan 30 % lemak nabati. Selain itu, metode ini menganjurkan untuk makan 5x dalam sehari untuk menjaga kelancaran metabolisme tubuh. Wajib juga melakukan olahraga selama 30 menit 6 hari dalam seminggu.

5. Atkins Diet
Atkins diet ditujukan untuk mengendalikan tingkat kadar gula darah dalam tubuh. Pola makan yang dianjurkan adalah mengkonsumsi protein rendah lemak, sayuran, dan juga menghindari karbohidrat.

Beda individu, bisa berbeda metode diet yang diterapkan. Memilih metode diet harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tubuh dan dilakukan secara konsisten. Karena diet merupakan pola hidup untuk menyeimbangkan metabolisme tubuh, bukan sekedar jalan pintas untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal.

Kapan – Kapan

Beberapa waktu lalu di bulan suci Ramadhan, bulah maghfirah, bulan penuh ampunan dan berkah, saya beberapa kali mendapat ajakan untuk hadir dalam acara buka bersama. Saya beberapa kali datang ke acara buka bersama ini, bukan karena menghargai acaranya tapi pada bulan ini di jam berbuka tempat – tempat karaoke tutup, bioskoppun sedang ditutup saat jam berbuka dan baru dibuka kembali pukul delapan malam. Acara buka bersama biasanya sering jadi reuni dadakan dan dihadiri teman – teman yang lama tidak bertemu, saking lamanya sehingga suasana mengharu – biru kemudian menyelimuti dan setiap orang yang ada menitikkan air mata. Seolah kami sedang berada di acara “Tali Kasih Yang Terputus Karena Karetnya Sudah Lapuk”.

Selayaknya umat manusia yang telah lama dipisahkan oleh waktu, kesibukan masing – masing, dan tidak adanya inisiatif untuk bertemu meskipun berada di kota yang sama, kami memulai percakapan dengan saling menanyakan kabar dan pekerjaan. Ketika suasana mulai mencair barulah keluar tawa dan obrolan kesana kemari ibarat kelompok penari poco – poco, melenggang ke berbagai arah tetapi tetap berada di tempat yang sama. Dan ketika tiba waktunya untuk saling undur diri, sudah pasti ada makhluk – makhluk yang mengeluarkan perkataan ajaib seperti ini “oh, kamu kerja disitu? Sekantor sama mantanku, kapan – kapan aku kirimin bom kesana”. Atau seperti ini “udah aku simpen nomermu, nanti kapan – kapan tak sebarin di toilet – toliet umum di stasiun dan terminal” dan berbagai macam kalimat penutup bernada serupa dengan kata ajaib “Kapan – Kapan”.

Kapan – kapan tidak hanya ramai beredar saat acara – acara buka bersama seperti yang saya ceritakan di atas, tapi selalu jadi kata ajaib yang menyertai setiap janji – janji manis. Biasanya sih, orang – orang sudah paham untuk gak ngarepin setiap pernyataan yang disertai “kapan – kapan” ini. Hampir semua umat manusia yang lahir dan besar di Indonesia Raya (ini berlebihan, tapi ya sudahlahya terima saja) sudah pasti pernah dan sering menggunakan kata ajaib ini, “kapan – kapan”. Saking seringnya menambahkan kata ajaib ini dalam setiap janji, akhirnya “Kapan – Kapan” ini seolah menjadi imbuhan wajib dalam setiap pernyataan banyak orang. Disadari ataupun tidak. Beberapa orang yang sudah kenyang kena modus kapan – kapan ini kemudian mengimbangi lawan bicaranya dengan jawaban seperti ini jawaban “kapan maz, kapan? Kapan kamu inget pulang maz, KAPAN?!!!”

Momen Menegangkan

Hey you my dear blog,

Sudah lama juga aku gak menuangkan buah karya pemikiranku yang super duper brilian. Meskipun aku gak tau persis kapan terakhir kali aku coret-coret disini, tapi aku yakin itu sudah cukup lama. Lebih dari hitungan bulan. Tenang blog gak perlu sedih gak perlu risau meski lama kita tak bersua, gak begitu banyak perubahan pada situasi dan kondisi di tanah air. Olga masih jadi presenternya Dahsyat, presiden kita masih belum kurus dan kantung matanya makin parah, bang Ipul masih menduda, dan Agnes Monica masih belum dapet grammy. Eh tapi, tau gak kamu kalo Amora Lemos udah punya adek? KD melahirkan di penghujung tahun 2012 kemaren, Aurel baru aja ngerayain anniversary bulan pertama dgn pacar barunya (iya, baru lagi! Namanya? Gatau), ibukota negara kita tercinta kebanjiran semingguan ini, Farhat Abbas dan Rhoma Irama nyapres.
Apah?! Kamu gak tau blog?? Ciyus?? Ya ampun, kamu terbelakang blog… Maafkan diriku yang cantik dan seksi ini karena telah mengabaikanmu sehingga membuatmu tak tahu perkembangan gosip2 terbaru di luar sana.

Sudahlaya intro-nya skrg kita masuk ke intinya saja (jadi tulisan ini ada intinya…). Minggu lalu aku baru saja nyabut gigi blog, gegara gigiku patah. Bukan karena aku mengalami KDRT ataupun dihajar pacar seperti Ardina Rasty, bukan. Bukan juga karena aku nantangin Dewi Perssik ataupun Jupe berantem. Apalagi bekas tamparan Agung Hercules. Bukan blog, bukan karena itu semua. Gigi ini patah karena dia capek bertahan dgn tambalan yg sudah lama bersamanya. Jadi, gigi yg patah ini dulu pernah bolong gede dan ditambal di tengah2. Nah, kapan hari pinggirannya patah. Setelah melalui diskusi dan pertimbangan yg teramat panjang dan melelahkan, akhirnya terpaksa diputuskan untuk melepas gigi ini. Karena kata sang dokter kalaupun mau pake pasak bumi rasa roso, akarnya sudah rapuh dan nantinya bakal pecah. Seram kan…

Sebelum dicabut, aku foto dulu. Bukan pas foto ukuran 3×4 atau 4×6, apalagi foto erotis. Tapi foto rontgen untuk memperlihatkan pada dunia bagaimana performa gigi-gigi manis ini. Tak banyak yang terjadi di saat-saat momen itu berlangsung. Di studio itu (apapun namanya ruangan itu) hanya ada aku dan mbak2 operator yg menjalankan alat untuk memotret gigi sekaligus sebagai pengarah pose yg baik untuk kuperagakan di depan alatnya. Supaya hasil foto giginya memuaskan pecinta gigi di luar sana.

Berkunjung ke dokter gigi sebenarnya satu dari 7 peristiwa yang sebisa mungkin tak ingin kulakukan versi on the spot. Buat yang pernah ke dokter gigi untuk keperluan apapun (kecuali minta sumbangan dan untuk bersenang2 berdua), pasti tau betapa gak nyamannya. Mangap dalam waktu yang gak sebentar sementara dokter ngobok2 gigi, iler mengalir dgn derasnya dan rahang mulai mengeras saking lamanya.
Tapi mau gimana lagi blog, gigi ini sudah tak nyaman lagi. Tambalannya mulai labil, tiap kali makan dia mengayun kesana dan kemari. Seperti abege labil yg selalu meramaikan acara2 musik di tivi2 nasional.

Kalau kamu pengen tau blog rasanya dicabut gigi, sakit apa enggak. Saat dicabut memang gak sakit, tapi… Ada penyesalan yg teramat dalam setelah pencabutan gigi itu selesai. Aku menyesaaallll… Kenapaaaa??!!!!!! Aku ingin gigiku kembali utuh seperti sedia kala… Aku benci dokter gigi blog…

Previous Older Entries