SRK in a Flash Review

Horeeee film terbarunya ShahRukh Khan udah keluar. Meskipun cuma ada di Blitz dan meskipun juga Blitz itu baru ada di Jakarta dan kota terdekatnya dan belum ada di Surabaya. Saya tetap heppi meskipun dalam hati garuk-garuk kain sari. Saya selalu berdoa pada Allah Swt supaya sang pengimpor berbelas kasihan dan kemudian memutarkan filmnya di 21cineplex. Saya janji, saya akan nonton kalo Ra.One nongkrong di 21cineplex.

Okelah, cukup meratapnya. Karena saya belum bisa nonton Ra.One, film terbaru ShahRukh Khan (SRK) yang bertemakan superhero ala Bollywood. Saya mau sedikit berbagi cerita tentang film-film idola saya itu yang sudah saya tonton sebelumnya. Tapi review cuma beberapa aja dari puluhan film-filmnya ya, kan saya gempor juga kalo nge-review semua filmnya satu-satu.

Kabhi Alvida Na Kehna

Pertama kali nonton film ini, saya kaget. Wow! Film India kok cerita-nya perselingkuhan. Film ini nyeritain dua pernikahan yang gak bahagia. Dua pernikahan ini punya kesamaan, keduanya diawali oleh niat baik untuk melanggengkan hubungan persahabatan dan kekeluargaan. SRK dan Preity Zinta yang jadi suami-istri di film ini, nikah karena udah lama banget temenan. Pada akhirnya, mereka kepikiran untuk mengikat hubungan pertemanan itu dalam pernikahan. Sementara Rani Mukherje dan Abishek Bachchan nikah karena sejak kecil, Rani sudah dianggap bagian dari keluarga oleh si laki-lakinya. Kemudian keduanya (Rani dan SRK) ketemu, saling curhat, dan terjadilah hal yang diinginkan.

Sepertinya Karan Johar, kekasih fiktif akyu sang sutradara dan penulis naskahnya mencoba mengkritik pernikahan yang tidak didasari oleh cinta. Yang mungkin aja banyak kejadian di negara asalnya sono, India. Terlepas dari ceritanya yang tidak biasa, banyak adegan dramatis dan quote yang mengena. Adegan favorit saya, adegan setelah SRK dan Rani Mukherje ngobrol panjang lebar tentang pernikahan dan jodoh di teras rumahnya. Adegan perpisahan dengan iringan lagu ini bikin saya meleleh, memadat lagi, terus menyublim dalam gedung bioskop. Terus, ada lagi yaitu adegan setelah SRK dan Rani ketahuan selingkuh sama mertua Rani (Amitabh Bachchan) dan ibunya SRK (Kirron Kher). Saat pulang ke rumah, Rani keliatan banget rasa bersalahnya sama si mertua. Sang ayah mertua hanya duduk ngeliatin Rani setibanya di rumah. Diamnya  sang mertua ini malah bikin Rani salah tingkah sampai mecahin piring segala.

Selain itu, ada satu quote yang terus gentayangan di kepala saya sejak pertama kali nonton film ini sampai sekarang “Ada luka yang bisa terhapus oleh seiring berjalannya waktu. Beberapa luka, makin menyakitkan bersama dengan berjalannya waktu”.

Josh

Ha! Ini nih, film-film preman dengan selera western-bollywood. Ceritanya, di film ini SRK jadi preman namanya Max dan punya sodara kembar Aishwarya Rai (Shirley). Max ini ketua geng Eagles yang musuhan berat sama geng Bichoos pimpinannya Prakash. Dua geng ini sering ribut dan punya daerah kekuasaan masing-masing. Sementara adek-adek dua bos geng itu terlibat dalam skandal asmara (huwooooo, skandal asmara. Apa itu…). Konflik memuncak dan meledak saat bos geng Bichoos, Prakash tewas ditembak dan Max jadi tersangka utamanya.

Film ini, meskipun mengandung unsur premanisasi (apalagi artinya premanisasi) tapi cukup menghibur. Banyak bumbu-bumbu yang bikin film ini lucu, seperti adegan-adegan Max pedekate sama cewek gebetannya yang dibantuin sama si adek dan anak buahnya. Terus, akal-akalan Max untuk gangguin adeknya Prakash yang punya toko roti di kampung itu.

Om Shanti Om

Ini dia, film India dengan bumbu reinkarnasi dan sedikit agak nyentil Industri di India. Diawali dengan setting taun 70an dimana seorang figuran bernama Om (SRK) terobsesi pengen jadi aktor besar di Bollywood, jatuh cinta dengan Shanti Priya artis yang lagi naik daun (daun apa, bu… daun jambu kaya’nya) yang ternyata sudah nikah dan lagi hamil anak dari produsernya Mukesh Mehra (Arjun Rampal). Setting taun 70an ini berakhir ketika Priya dibunuh Mukesh dengan cara dibakar hidup-hidup di sebuah studio yang disaksikan oleh Om yang lagi nongkrong disekitar studio saat itu. SRK ikut tewas dalam peristiwa itu dan bereinkarnasi menjadi anak tunggal salah satu aktor berpengaruh di India dari klan keluarga besar Kapoor, SRK terlahir kembali dengan nama Om Kapoor.

Nah, disinilah Om Kapoor dewasa, aktor keren, arogan, keturunan ningrat para aktor Bollywood dan digila-gilai cewek-cewek India itu mulai mendapatkan sedikit flashback dari kehidupan sebelumnya dan mulai menyusun setiap pecahan memori itu dengan mengumpulkan setiap petunjuk yang muncul dihadapannya.

Film ini banyak nyelipin parodi seputar indsutri film Bollywood sendiri. Saya sih, lucu-lucu aja liatnya. Cuma agak heran,parodi kan biasanya dimainkan oleh orang lain. Nah, di film ini banyak aktor-aktor yang malah memparodikan film-filmnya sendiri. Agak bizarre…

Veer-Zaara

Huwaaaaaa!!!!! Nangis nangis deh gara-gara film ini.

Ceritanya sih biasa, kisah cinta gitu. Cuma, bumbunya ini yang bikin hati teriris perih gundah gulana meraja lela armand maulana (errr… kenapa bawa-bawa Armand Maulana). Kisah cinta antara Veer (SRK) cowok India dan Zaara (cewek Pakistan) yang seperti biasa, gak direstui oleh pihak perempuan. Zaara akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan keluarganya dan keluarganya meminta Veer untuk gak gangguin anaknya.

Terus, entah karena apa. Tiba-tiba Veer masuk penjara gitu (saya lupa kenapa. Mau nonton lagi, saya takut hati yang baru sembuh dari sakit ini terluka lagi. Halah! *jedotin kepala ke bantal*). Setelah puluhan taun nongkrong di penjara, datanglah seorang pengacara (Rani Mukherje) yang mencoba mengangkat kembali kasus-nya Veer ini. Awalnya, Veer keukeuh mempertahankan status narapidanya karena mengira Zaara sudah hidup bahagia sama pasangannya dan gak ada gunanya dia bebas.

Film ini ceritanya memang aneh. Kalo memang mau putus, ya gak usah repot-repot masuk penjara kenapa. Puluhan taun lagi dipenjaranya. Sedangkan si cewek ternyata ujung-ujungnya gak kawin tuh sama laki-laki yang udah dipilihkan keluarganya. Duh, rugi banget kan. Mending kawin lari aja. Buang-buang waktu puluan taun. Tapi, meskipun ceritanya aneh, saya tetep aja nangis dan ikut deg-degan ketika adegan Veer ketemu lagi sama Zaara di persidangan setelah puluan taun gak ketemu. Memang, film India juaranya drama.

Mohabbatein

Film ini banyak menyimpan lagu-lagu keren yang kental banget gendang-gendang khas India. Humko Humise Churalo adalah salah satu lagu juara di  film ini. Ceritanya sederhana. Cerita cinta tiga cowok yang sekolah di asrama cowok dengan berbagai kendalanya tapi ketiganya punya satu problem besar. Sekolah itu (Gurukul) mengharamkan setiap muridnya untuk cinta-cintaan. Hingga datanglah seorang guru musik keren yang namanya Raj (SRK) dengan misi mengubah keadaan itu.

Raj sendiri punya hubungan khusus dengan sekolah itu dan kepala sekolahnya Narayan Shankar(Amitabh Bachchan). Hubungan macem apa? Apakah Raj itu adalah anak hasil hubungan gelap sang kepala sekolah yang tidak diakuinya? Terus Raj datang untuk mengambil alih kekuasaan di Gurukul demi membalaskan dendam ibunya yang tersakiti? Bukan. Bukan seperti itu, hubungannya. Meskipun itu cerita yang sangat umum terjadi. Tepatnya, Raj dulu pacaran sama Megha anak perempuan satu-satunya dari sang kepala sekolah. Hubungan itu gak direstui dan mengakibatkan Megha bunuh diri dengan lompat dari balkon rumahnya (d’ooh… mbakyu. Lelaki di India cuma kekasih ya…).

Raj yang mengagungkan cinta itu berusaha masuk Gurukul sebagai guru musik dan merubah keadaan di Gurukul yang kaku di bawah kepemimpinan Narayan Shankar. Dengan memanfaatkan tiga bocah Gurukul yang lagi dimabuk asmara, Raj pelan-pelan berusaha meluluhkan hati sang kepala sekolah.

—————————————————————————————–

Nah itu dia bagi-bagi cerita singkat lima film dari buanyak film yang pernah dibintangi SRK. Meskipun banyak, memang sengaja cuma lima aja yang di-review. Dan tak perlu protes atau tanya-tanya kenapa diantara buanyaknya film SRK yang box office mendunia, yang saya review cuma judul-judul film diatas. Dan bukan Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khusi Kabhi Gham, ataupun Chakde! India dimana SRK jadi coach hockey timnas cewek India. Tenang, someday somehow somewhere pasti banyak yang sudah me-review film-film SRK lainnya, selain dari yang sudah saya tulis diatas (penulis seenaknya dan gak bertanggung jawab…). Selain itu, Sengaja memang gak di-rating, karena memang saya gak mau.

Review film belum pernah se-absurd ini.

Iklan

Devdas -> Kisah Cinta Tragis ala Bollywood

Devdas, film India yang lagi pengen aku tulis kali ini. Film ini udah lama banget keluarnya, tepatnya tahun 2002. Sebenarnya, film ini adalah film remake dari versi aslinya yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1955 (wow!!!!! bahkan papaku waktu itu masih balita). Film ini disutradarai oleh Sanjay Leela Bhansali dan dibintangi artis-artis kelas A Bollywood, tiga diantaranya adalah Shahrukh Khan (Devdas), Aishwarya Ray (Paro),dan Madhuri Dixit (Chandramukhi). Selain itu ada Kiron Kher (Sumitra) yang berperan sebagai ibunya Paro dan Jackie Shroff (Chunnilal) sebagai teman baiknya Devdas yang pemabuk berat.

Film ini mengangkat tema mengenai cinta dan konflik keluarga. Berawal dari kisah cinta Devdas dan Paro yang sebelum pacaran, mereka ini sudah sering main bareng waktu kecil. Ketika remaja, Devdas meninggalkan India untuk kuliah ke… (Inggris apa Amerika ya??? Aku lupa). Sejak saat itu, Paro terus menunggu Devdas dan menyalakan lilin sebagai simbol dari harapan dan cintanya buat Devdas yang gak akan pernah mati.

Setelah bertahun-tahun menunggu, Paro mendengar bahwa Devdas telah kembali ke India. Paro adalah perempuan yang paling bersuka-cita dengan kabar ini (dibuktikan dengan adegan menyanyi dan menari saat dia denger Devdas mo pulang). Devdas sendiri juga sangat tergila-gila oleh Paro, terbukti dengan keputusan Devdas untuk mengunjungi rumah Paro terlebih dulu sebelum dia sampai ke rumahnya sendiri (gara-gara ini, ibunya sempat marah besar karena Devdas lebih memilih menginjakkan kaki pertama kali ke rumah Paro daripada pulang ke rumahnya sendiri).

Masalah mulai muncul ketika Sumitra (ibunya Paro), berkunjung ke rumah keluarga Devdas untuk melamar Devdas. Keramahan Sumitra ini dibalas dengan caci maki dan penolakan dari ibunya Devdas. Keluarga Paro dianggap gak sekelas dengan keluarga mereka (keluarga Devdas kaya banget, keluarga Paro biasa aja). Mendengar ini, Sumitra marah dan mengadukannya ke Paro. Meskipun marah, ketika dia melihat Paro yang sedih karena lamarannya ditolak, tetap saja Sumitra sebagai ibu gak bisa memaksa anaknya untuk melupakan Devdas. Sumitra bahkan gak keberatan kalo ternyata nanti Devdas mengajak Paro kawin lari jika itu untuk kebahagiaan anaknya. Tapi, dasar Devdas ini anak penurut. Dia lebih memilih untuk ngikutin ibunya dan gak berani kawin lari sama Paro. Padahal, Paro sempat datang dan bilang ke Devdas kalo dia gak keberatan untuk kawin lari.

Dendam karena ditolak oleh Devdas dan keluarganya, Sumitra bersumpah untuk menikahkan Paro dengan laki-laki yang lebih kaya dan lebih terhormat daripada Devdas. Paro yang sudah patah hati, langsung nurutin kemauan ibunya. Sumpah sang ibu akhirnya terlaksana. Paro menikah dengan laki-laki yang jauh lebih kaya dan terhormat daripada Devdas. Setelah menikah, Paro meninggalkan rumah dan tinggal bersama keluarga suaminya di luar kota (entah luar kota sebelah mana). Meskipun Paro sudah nikah sama cowok lain, dia tetap lo nyalain lilin yang menyimbolkan cintanya buat Devdas. Buat Paro, selama lilin itu tetap nyala, itu berarti cintanya akan terus ada buat Devdas.

Sementara itu, Devdas yang ditinggalkan Paro mulai tenggelam dalam penyesalan. Selain stress ditinggal Paro, dia juga mulai muak dengan keadaan di rumah. Dimana kakak iparnya mulai ingin merebut harta warisan keluarganya. Devdas berubah dari cowok bangsawan yang elit jadi cowok bangsawan pemabuk yang suka main ke lokalisasi. Di tempat itu dia ketemu salah satu perempuan penghibur yang memang jadi idola di lokalisasi daerah itu, namanya Chandramukhi. Chandramukhi akhirnya jatuh cinta berat sama Devdas dan memilih untuk hanya melayani Devdas.

Kisah cinta di film ini sebenarnya memang biasa. Tapi setiap adegan dibuat se-dramatis mungkin. apalagi adegan ketika Paro akhirnya menikah dengan cowok lain. Saat itu, dia menyempatkan diri untuk pamit ke Devdas. Yang lebih mengharukan adalah, Devdas sendiri yang kemudian menjadi pengiring Paro menuju ke tandu pengantin. Devdas bahkan gak keberatan untuk jadi salah satu pengiring di tandu pengantin itu. Paro yang ada didalamnya nangis sejadi-jadinya (aku juga…). Belum lagi adegan dimana Devdas dan kakak iparnya rebutan surat hak waris. Pas adegan ini, wajah Devdas gak keliatan marah ataupun gelisah. Tanpa ekspresi, dia langsung membakar surat warisan itu supaya gak diperebutkan lagi. Sementara kakak iparnya jejeritan.

Selain itu, tiap lokasi yang ada di flm ini didandani semewah dan seeksotis mungkin dengan tetap mempertahankan ciri khas India pada jaman dulu. Make-up yang dipake pemeran ceweknya juga pas. Gak berlebihan dan warnanya juga cocok. Mengingat film ini di-setting-kan pada tahun 70an, dimana warna-warna make-up pada masa itu hanya terbatas pada merah, oranye, dan coklat. Kostumnya pun dibikin sangat bagus, penuh warna dan ornamen khas India banget…

Film ini sarat akan ritual khas India dan tentu gak lepas dari adegan nyanyi dan nari. Sungguh mengingatkan alasan ketertarikanku akan film-film Bollywood. Full color, penuh ritual dan kebiasaan tradisional, ada nyanyi dan nari, emosi yang berubah dengan cepat, dan acting para pemainnya yang buagus bangetttt. Ketika acting marah, mereka gak perlu menekan otot-otot di bagian rahang, mengkomat-kamitkan bibir, memelototkan mata, atau ngacak-ngacak rambut sambil muter-muterin ruangan.

The Bounty Hunter

Hoho hoho… it’s another drama comedy!!! Kali ini yang aku mau bagi ceritanya adalah, The Bounty Hunter. Atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, Sang Pemburu Hadiah (bener gak…?).

Film ini pemeran utamanya Jennifer Aniston (Nicole) dan si Gerard Butler (Milo). Sebelum aku mulai nulis sedikit tentang film ini, aku pengen cerita asal muasalnya kenapa aku tertarik nonton film ini. Pas film ini baru diluncurkan, sepertinya para tim promonya menghembuskan gosip bahwa dua bintang utamanya, si Jennifer Aniston dan Gerard Butler terlibat cinlok. Liputan dari media menambah seru berita ini dengan ditemukannya foto si Gerard Butler yang lagi megang bokonngnya si Jennifer Aniston (sengaja gak kupasang disini, takut kena tuduhan pornografi). Dan juga pernyataan gak jelas dari dua orang itu yang gak menyangkal tapi juga gak mengiyakan kalo mereka ini terjerumus ke dalam jurang cinlok. Bahkan keduanya sempat saling memuji, trus terdengar gosip juga kalo si Aniston ini berkeinginan untuk menjadikan si Gerard Butler sebagai kandidat bapak dari anak-anak yang ingin dia lahirkan nanti (OMG… she’s so desperate). Gosip-gosip gak jelas itu bikin aku penasaran sama film ini. Film kaya’ gimana seh yang bisa bikin dua orang ini cinlok? Aku sempat kemakan gosip-gosip itu. Hiks, betapa gampangnya aku terpancing…

Oke, selesai sudah acara berbagi gosipnya. Sekarang aku mo cerita sebentar tentang film ini.

Pada awal film, kita akan disuguhkan adegan si Milo yang sedang nyetir mobilnya di daerah pinggiran kota, kemudian muncul asap tebal dari bagasi mobilnya. Milo langsung nge-cek bagasinya yang ternyata disitu ada Nicole, mantan istrinya yang tengah berusaha melepaskan diri dengan mengeluarkan asap tebal dari entah apa yang dia pegang waktu itu (silakan ditebak sendiri, aku gak tau nama barang yang dipegang Jennifer Aniston di bagasi mobil yang bisa ngeluarin asap tebal itu namanya apa). Setelah si Milo ngebuka bagasi lebar-lebar, Nicole langsung melarikan diri. Tapi, namanya juga cewek. Belum jauh dia lari, udah ketangkep duluan ama si cowoknya. Aduuuhhh… usaha yang melelahkan. Setelah adegan ini, kita dibawa mundur ke peristiwa 36 jam (bener gak ya… aku agak lupa juga) sebelumnya.

Ceritanya, si Nicole ini akan menjalani sidang untuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukannya. Menjelang sidang,  Nicole nerima telpon dari seorang informan yang menjanjikannya untuk ngasih info tentang kasus bunuh diri yang sedang diliput oleh Nicole (Nicole diceritakan sebagai seorang jurnalis yang sedang menangani kasus bunuh diri yang menurutnya janggal dan cenderung mengarah ke pembunuhan ketimbang bunuh diri). Nalurinya sebagai jurnalis yang dipenuhi rasa penasaran yang sangat besar membuat Nicole gak ragu meninggalkan sidang dan pengacaranya yang sudah di depan mata. Akhirnya, karena Nicole ninggalin sidang, dia langsung ditetapkan sebagai buronan oleh hakim dan akan dihukum penjara (gileee, ditilang aja bisa dipenjara dan jadi buronan segala…).

Sementara itu di tempat lain, Milo yang seorang Bounty Hunter diminta kakak yang juga agennya untuk menangkap Nicole dan menyerahkannya ke polisi pada hari Senin. Milo yang lagi butuh duit dan memang lagi gak ada kerjaan di akhir pekan langsung menerima dengan senang hati kerjaan untuk nangkep Nicole yang ternyata adalah mantan istrinya sendiri. Dia merasa ini adalah saatnya untuk mengerjai sang mantan istri.

Milo gak butuh waktu lama untuk menemukan sang mantan istri. Nicole ditemukan Milo di tempat pacuan kuda, dimana Nicole sering nongkrong disitu kalo lagi butuh banget keberuntungan. Setelah tau maksud kedatangan Milo, Nicole sempat memohon supaya diberi kelonggaran, karena saat ini dia sedang menanangani kasus penting. Nicole sendiri yang sudah meninggalkan pengadilan, gagal menemui calon informannya karena, sang informan ternyata udah diculik duluan sama seseorang yang diduga pelaku pembunuhan dari kasus yang sedang diliput oleh Nicole. Milo gak mau tahu dan tetap akan menyerahkan Nicole ke polisi. Disitu sempat terjadi adegan kejar-kejaran antara Milo dan Nicole, yang berakhir pada adegan pertama pada film ini yaitu, terperangkapnya Nicole di dalam bagasi mobil Milo.

Setelah berantem-berantem kecil, akhirnya Milo mau juga mengeluarkan Nicole dari bagasi meskipun tangannya tetap terborgol di mobil Milo. Ternyata, sang penjahat yang menculik informan Nicole, diam-diam menguntit mereka. Bahkan ketika sang pembunuh berhasil mendekati mobil Milo, sempat terjadi baku tembak diantara mereka . Keadaan mereka yang terancam bahaya, akhirnya memaksa kedua pasangan mantan suami istri ini untuk kompak demi keselamatan nyawa mereka.

Film ini sebenarnya punya bumbu yang lumayan menggigit untuk genre drama komedi. Sedikit action, misteri pembunuhan, dan juga kejar-kejaran dengan anak buah lintah darat yang memburu Milo karena punya banyak hutang sama bos mereka. Selain itu, yang cukup menghibur di film ini adalah kehadiran Christine Baranski sebagai Kitty, mamanya Nicole. Hubungan ibu-anak ini cukup unik, bahkan lebih bisa dibilang seperti hubungan antar teman karena si ibu ini bisa dengan enaknya mengucapkan kata-kata kotor untuk mengkespresikan kekagetannya. Selain itu saran-saran yang gak biasa dari seorang ibu nyentrik macam Kitty ini juga memberi nilai tambah buat film ini, meskipun memang dia hanya tampil dalam beberapa scene aja.

Sayangnya, adegan kejar-keajaran antara Milo dan Nicole yang diulang-ulang membuat adegan tersebut terasa membosankan. Juga, kehadiran anak buah lintah darat yang ikut mengejar Milo terasa kurang berarti di film ini. Meskipun, mungkin aja kehadiran lintah darat yang kejam dan agak bodoh berfungsi untuk menguatkan karakter Milo yang hobi berjudi sampe terlilit utang dengan lintah darat, tapi tetep aja kehadiran mereka ini gak berguna juga. Kalaupun gak ada lintah darat, dengan melihat bagaimana Milo memperlakukan Nicole, dan bagaimana Nicole dibikin sebal setengah mati oleh kelakuannya, penonton pasti bisa dengan sendirinya tau kalo Milo ini bukan cowok yang bisa diandalkan (bahkan tanpa perlu menghadirkan lintah darat sekalipun).

Padahal adegan pertama dalam film ini aja udah bisa mencuri perhatian dan mungkin bikin penontonnya akan duduk diam di kursinya dengan penuh rasa penasaran. Selain kehadiran lintah darat yang agak maksa, adegan akhir dari film ini bisa dibilang agak aneh dan juga maksa.

Apapun kekurangan dari film ini, tetep aja film ini boleh juga untuk ditonton sambil males-malesan di rumah. Karena meskipun ada adegan tembak-tembakan, kejar-kejaran, pembunuh, lintah darat, tetap film mampu menghibur, karena semua konflik dan permasalahan disajikan dengan ringan. Ya, gak jauh beda sama film-film drama komedi lainnya.

The Back-Up Plan

Film ini jadi film yang menandakan kembalinya Jennifer Lopez ke layar lebar setalah cuti panjang untuk melahirkan dan mengasuh anak kembarnya bersama Marc Anthony. Di film ini, Jennifer Lopez (Zoe) berpasangan dengan Alex O’Loughlin (Stan).  Di awal film, kita akan disuguhkan adegan ketika Zoe sedang mengupayakan inseminasi buatan di sebuah rumah sakit. Zoe merasa sangat yakin untuk mendapatkan anak melalui cara ini. Sebelumnya, Zoe yang sempat mendiskusikan rencana ini pada teman-temannya mendapatkan reaksi yang sangat tidak supportive dari mereka.

Teman-temannya menyarankan Zoe untuk memikirkannya kembali dan menganggap bahwa dia melakukannya karena dilanda kesepian berat akibat sedang gak punya pacar. Di film ini kita bisa melihat perbedaan pendapat mengenai punya bayi antara Zoe dan salah seorang sahabat ceweknya yang sudah menikah dan punya anak (Mona). Mona sempat ngotot bahwa hamil, melahirkan dan punya anak itu gak ada bagus-bagusnya dan gak ada enak-enaknya. Selain badan jadi jelek, susah cari baju, trus ketika anak-anak sudah besar dia kerepotan ngurusin kebandelan anak-anaknya. Tapi Zoe keukeuh ngejalanin inseminasi, dia menyangkal bahwa dia ngotot pengen dapet anak dengan cara ini karena kesepian aja. Zoe menganggap inilah waktu yang paling tepat untuk memiliki keluarga.

Tepat setelah Zoe keluar dari rumah sakit setelah di-inseminasi, Zoe bertemu dengan seorang cowok manis. Gara-gara mereka rebutan taksi, tapi akhirnya dua-duanya malah gak jadi naik taksi itu. Setelah itu, mereka ketemu lagi di sebuah pasar (gak tau harus namain tempat itu apa, kaya’nya seh semacam pasar ya…) tempat dimana si Stan jualan keju (ternyata si Stan adalah pembuat keju, hmm… cheesy). Dari situ, mereka mulai nge-date dan Zoe mulai ragu akan rencana memiliki anak lewat jalan inseminasi. Dia merasa Stan adalah laki-laki yang sempurna buat dia. Bahkan Zoe sempat berharap bahwa proses inseminasi-nya gagal dan dia gak jadi hamil supaya bisa terus pacaran dengan Stan. Zoe takut bahwa Stan gak akan bisa menerima keadaannya.

Ternyata harapan Zoe tidak terwujud. Inseminasinya sukses, dia hamil!!! Saat itu dia bingung harus senang, kecewa, atau sedih. Zoe kemudian memutuskan untuk menceritakannya pada Stan bahwa dia hamil dari hasil inseminasi buatan, sesaat sebelum mereka bertemu. Saat Zoe menceritakan ini, Stan gak bisa terima karena ya, dia merasa dibohongi dan merasa aneh juga. Aneh karena cewek yang baru aja dia kencani, sudah hamil duluan dan bukan hasil dari hubungan mereka.

Film ini gak ada bedanya sama film-film drama komedi lainnya. Cerita yang simpel, karakter-karakter yang menarik, cewek kesepian yang merindukan cinta, cowok ganteng dan sempurna, teman-teman curhat yang menyenangkan, semua bahan yang ada di setiap film drama komedi ada disini. Permasalahannya juga sederhana, dimana si cewek punya rahasia yang dia gak yakin cowoknya akan menerima dia jika, rahasia itu terungkap. Si cowok yang merasa dibohongi setelah si cewek cerita sejujur-jujurnya tentang keadaan dirinya. Dan akhir yang sangat khas drama komedi Hollywood.

Diantara sederet daftar ke-biasa-an film ini, The Back Up Plan bisa dibilang cukup menghibur (apalagi buat pecinta genre film ini). Kita bisa liat gimana ribetnya Zoe yang perutnya sudah mulai membesar tapi ngotot mo pake baju pesta ketatnya (plus high heels!!!), trus ketika Zoe yang akhirnya sukses pake baju pesta ketat tapi kesusahan masuk taksi, nafsu makan Zoe yang tiba-tiba gak bisa dikendalikan dan melahap makanan apapun bahkan ketika makanan itu masih ada dalam panci.

Previous Older Entries